Jangan Anggap Enteng Tuberkulosis



Arifin Panigoro:
Jangan Anggap Enteng Tuberkulosis
Mengapa tertarik pada pengendalian TB? Pertanyaan itu disampaikan kepada Arifin Panigoro ketika sesi wawancara di kediamannya di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2016). Mengenakan kemeja putih berlengan pendek dipadu celana gelap, Arifin menjawabnya dengan santai tetapi tetap serius di sofa Griya Jenggala.
Ketertarikannya terhadap TB diawali ketika aki (kakek) dari 6 cucu itu didaulat menjadi Ketua FTSPI pada 2013. Setelah terjun dalam urusan pengendalian TB ini, Arifin menemukan bahwa TB tidak sesederhana yang ada dalam anggapan masyarakat kebanyakan Indonesia.
Di Indonesia, kata Arifin, salah satu kendala pengendalian TB adalah pada sosialisasi dan advokasi untuk menangani masalah-masalah nonmedis. Diperlukan usaha ekstra agar masalah besar ini, terutama nonmedis, bisa diatasi mengingat Nusantara yang begitu luas. Untuk itulah ia memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam pengendalian TB.
“Melihat begitu besar jumlah orang yang mengidap dan meninggal akibat TB serta penyebaran yang begitu masif, saya mencobalah untuk mengambil posisi dan mencoba mengajak angota-anggota yang sektornya banyak untuk bisa bekerja sama dalam menghadapi TB ini,” kata penyuka karya seni dan musik jazz ini.
Ayah dari Maera Panigoro dan Yaser Raimi Panigoro ini mengatakan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam pengendalian TB di Indonesia adalah bagaimana mengubah pemahaman masyarakat yang mengganggap bahwa penyakit TB bukanlah penyakit yang serius.
“Ada pemahaman dalam masyarakat kita bahwa TB itu tidak serius-serius amat. ‘Ah gampang, obatnya gratis, kemudian pasti bisa disembuhkan.’ Padahal, kalau sudah mencoba menjalaninya, akhirnya mengerti, benar obatnya sih gratis, tetapi bawa si pasien ke Puskesmas atau ke tempat berobatnya, bolak-balik enam bulan, atas biaya siapa? Kemudian enam bulan berobat apa tidak bosan? Ya, kebanyakan bosan, itulah yang serius masalahnya,” kata Arifin.
Ia juga menekankan bahwa sosialisasi terhadap penyakit TB kalah jauh dibandingkan dengan penyakit lainnya, seperti HIV/AIDS dan narkotika. Seharusnya media massa mesti memperlakukan TB sama seperti perhatian pada HIV/AIDS dan narkotika.
Arifin mengingatkan, bahaya TB adalah ketika pengobatannya tidak tuntas. Jika begitu, bukan saja pengobatan harus dimulai dari awal lagi, tetapi masa pengobatannya menjadi panjang. “Bisa mencapai dua tahun. Dalam proses pengobatan itu bukan tidak mungkin pengidap MDR-TB (multi-drug resisten TB) itu meninggal. Selain itu, pengidap juga rentan terjangkit penyakit lainnya,” katanya.
Menurut Arifin, keberadaan FSTPI adalah suplemen bagi pemerintah, baik pusat dan daerah. Untuk itu ia mendorong pemerintah sungguh-sungguh menggarap pengendalian TB ini.
“Kita semua yang terlibat di forum TB, di daerah dan di pusat, jadi suplemen mendukung pemerintah. Jadi, peran utamanya ada di pemerintah,” ujarnya.
Arifin Panigoro yakin bahwa langkah-langkah yang dilakukan FSTPI dalam mengajak berbagai perusahaan mulai dari yang kecil hingga yang besar akan sangat baik dan membawa dampak besar. Koalisi Industri untuk Stop TB pun dibentuk pada 21 September 2016.
“Kita akan terus menghubungi pimpinan perusahaan dan menjelaskan pentingnya penanganan TB ini di tempat kerja. Mulai menggarap perusahaan-perusaan, saya kira, itu langkah strategis,” pungkas Arifin Panigoro. (*)
Sumber dari : Newsletter kemitraan TB edisi 1