HARI AIDS SEDUNIA

PPTI PERINGATI HARI AIDS SEDUNIA

Jakarta, 10 Desember 2012

Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) mengirimkan 20 staf mengikuti gerak jalan memperingati Hari AIDS Sedunia dengan tema “ Stop AIDS, Protect Women and Children “ di Pantai Festival, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Minggu pagi (9/12).
Kegiatan tersebut diselenggarakan Yayasan AIDS Indonesia (YAI) bersama dengan Gerakan Remaja (Gema) Sehat Indonesia yang dibuka Menkes RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH. Gema Sehat Indonesia merupakan gabungan organisasi sosial kemasyarakatan maupun institusi yang melibatkan remaja dalam kegiatannya seperti PPTI, YAI, Kwarnas Pramuka, PKK Pusat, Komnas Anak dan lain-lain.
Gerak jalan dan pawai sepeda hias menempuh jarak kira-kira 6 km, diikuti sekitar 1000 peserta terdiri dari anak-anak (Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD dari Cipinang Besar Jakarta Timur), orang tua siswa PAUD, remaja (siswa sekolah Dasar dan Menengah) dan orang dewasa (utusan organisasi kemasyarakatan).
Sebelum melepas peserta gerak jalan, Menkes berdialog dengan peserta dengan menanyakan bagaimana melindungi perempuan dan anak dari infeksi virus HIV. Seorang remaja pria memberanikan diri maju dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. “Tidak melakukan seks bebas”, jawab remaja tersebut.
Seks bebas yang seperti apa? Seks bebas itu artinya tidak membayar. Ingat, suami istri pun melakukan hubungan seks secara bebas, tetapi untuk tujuan yang mulia. Saya berhubungan seks dengan suami saya juga bebas, engga bayar. Apakah saya masih bisa tertular virus HIV?” tanya Menkes.
“Tidak akan tertular, Bu”, jawab remaja tersebut.
Barisan peserta yang semula tenang, sontak menjadi riuh. Menkes lalu mempersilahkan peserta lain yang memiliki pendapat berbeda. Tidak lama, satu orang remaja pria, kemudian disusul seorang remaja putri naik ke atas panggung, dengan semangat menyatakan pendapatnya.
Sebelumnya mohon maaf, “Saya tidak setuju”, jawab Reynold. Menurut saya, kalau berhubungan seksual antara suami-istri itu benar bebas alias tidak membayar. Tetapi kita tidak tahu apakah suami pernah melakukan seks dengan orang lain di luar sana atau tidak. Hubungan suami istri ‘kan dasarnya saling percaya, jadi tidak tanya-tanya dulu sebelum berhubungan seksual. Jadi saya tidak setuju, karena menurut saya, seorang istri masih bisa tertular HIV”, jelas Reynold.
“Saya juga tidak setuju, Bu. Kita tidak tahu apakah suaminya mengidap virus HIV, atau mungkin penyakit lain yang bisa ditularkan kepada istrinya”, kata remaja putri bernama Tri.
Menanggapi jawaban kedua remaja tersebut, Menkes menyatakan bahwa jawabannya benar, selain HIV ada beberapa penyakit kelamin yang dapat ditularkan oleh suami kepada istri atau sebaliknya. Menkes lalu menanyakan kembali, bagaimana cara melindungi wanita dari ancaman penularan virus HIV ?.
Reynold mengambil microphone yang disodorkan kepadanya. Ia lalu memberikan pandangan bahwa upaya penyuluhan HIV/AIDS bagi wanita Indonesia harus menyeluruh, tidak hanya terpusat di perkotaan. Menurutnya, masih banyak kaum hawa di pedesaan yang sama sekali belum mengerti HIV/AIDS, atau penyakit kelamin lainnya.
“Selain itu, menurut saya sebagai lelaki, kita juga harus menghormati wanita. Caranya adalah setia dengan satu pasangan saja”, tegas Reynold. Mendapat jawaban tersebut, Menkes lalu mengangkat tangan Reynold pertanda jawabannya benar lalu memberikan tepuk tangan.
Menkes menegaskan, peran laki-laki dalam pencegahan HIV/AIDS sangat penting, kaum laki-laki harus sadar bahwa mereka harus bertanggung jawab terhadap istri dan keluarganya. “Jadi ingat ya, laki-laki juga berperan penting, kalau kaum lelaki bertanggung jawab, dia akan menghormati perempuan, maka dia bisa melindungi perempuan”, kata Menkes.
Perbincangan lalu dilanjutkan dengan perlindungan anak dari ancaman HIV-AIDS. Menurut Menkes, salah satu cara penularan virus HIV maupun bibit penyakit lain kepada bayi, bisa ditularkan dari orang tuanya. Biasanya seorang ayah atau calon ayah berpotensi menularkan kepada istri atau pasangannya (calon ibu). Apabila seorang ibu hamil terinfeksi virus HIV, gonorrhea, sifilis, atau penyakit kelamin lain, dapat ditularkan dari ibu ke bayi yaitu pada saat dalam kandungan, persalinan atau menyusui.
Menkes menambahkan, hal utama untuk melindungi anak dari ancaman infeksi virus HIV adalah perilaku sehat dan bertanggung jawab dari para calon orang tua. Yang disebut calon orang tua itu antara lain remaja yang suatu hari akan menikah, ataupun orang muda yang sudah menikah.
Berita ini disiarkan oleh Sekretariat Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 7397494, faksimili: (021) 7228123, atau e-mail ppti66@yahoo.com

            Gambar I : 20 Staf PPTI yang mengikuti gerak jalan


            Gambar II : Sambutan Menkes RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH


            Gambar III : Pelepasan peserta gerak jalan oleh Menkes RI, dr. Nafsiah Mboi,
            Sp.A, MPH (tengah) didampingi Ketua Umum Yayasan Aids Indonesia,
            Martina Widjaja (kiri) dan Puteri Indonesia Lingkungan Hidup, Liza Elly
            (kanan)


            Gambar IV : Peserta Memulai Gerak Jalan