Syamsinar Rasyad : Kader PPTI, Pejuang TB

Syamsinar Rasyad : Dalam Keterbatasan Menyelamatkan Penderita TB Paru

Luar Biasa! Itulah kata yang paling tepat untuk mengungkapkan kehebatan wanita ini. Ia sudah berusia lebih dari setengah abad, tapi daya juangnya melebihi anak muda. Ia memiliki beban tugas yang berat dalam keluarga, namun masih meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk orang lain. Kehidupannya juga pas-pasan, tapi masih mau menolong orang yang dalam kondisi papa. Ia bukan tenaga paramedis, tapi mampu mendampingi penderita TB paru menjalani pengobatan hingga sembuh. Itulah Syamsinar Rasyad (58 tahun), relawan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosa Indonesia (PPTI) wilayan Jambi, Indonesia.
Wanita kelahiran Sawahlunto Sijunjung, Sumatera Barat, Indonesia, ini telah menghabiskan 18 tahun usianya untuk menolong penderita tuberkulosis (TB) paru dari kalangan tidak mampu di Jambi. Ia menyelamatkan tak kurang dari 185 orang dari keganasan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobakterium tuberculosis ini. Artinya, setiap tahun ia menyelamatkan jiwa rata-rata 10 orang atau lebih. Bahkan, salah seorang dari mereka kini menjadi petani sukses dengan 10 ha kebun kelapa sawit dan kebun karet, satu unit rumah bagus, serta mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.
Padahal, sebagai wanita yang telah melahirkan tiga orang anak dan telah berusia setengah baya, tenaganya tidak sekuat remaja. Meskipun energi tubuhnya telah terkuras untuk pengurus rumah, suami, dan anak-anaknya, ia masih punya energi ekstra untuk menolong orang lain yang bernasib kurang beruntung. Setiap hari ia masih mampu mengunjungi penderita TB paru yang membutuhkan uluran tangannya.

Syamsinar. Meski usianya sudah setengah baya, semangatnya tidak kalah dari anak muda


Syamsinar juga bukan orang berada. Sebagai istri Kepala Sekolah Dasar ia hanya menerima uang Rp 1,3 juta (US $ 145) dari gaji suaminya, Mohammad Nur S., BA.(meninggal 3 Februari 2009). Untuk tambahan penghasilan, ia berjualan makanan kecil si sekolah dimana suaminya bekerja. Dengan uang itu ia harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan menyekolahkan tiga orang anaknya. Bisa dibayangkan, bagaimana ia mengerahkan segala daya pikirnya untuk bisa memenuhi semua kebutuhan itu menggunakan uang yang terbatas. Toh ia tetap masih bisa membantu penderita TB paru yang papa agar bisa memperoleh pengobatan.

Pasang mata dan telinga dimana-mana
Ya. Apa yang telah dilakukan Syamsinar tak lepas dari jiwa sosial yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Sejak muda, ia sudah aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Sebelum menjadi relawan PPTI, ia telah lama menjadi kader PKK (organisasi wanita yang bergerak di bidang edukasi wanita dan ibu rumahtangga), relawan Keluarga Berencana (KB) dan relawan Pos Yandu (pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayi usia di bawah lima tahun). Karena aktivitas sosialnya itu, pada 1992 ia mendapat penawaran dari Bapak Kholil (Camat Pelayangan, Jambi) untuk penjadi relawan PPTI Wilayah Jambi. Ia menerima penjelasan bahwa relawan itu bekerja untuk sesama dan untuk kepentingan masyarakat. Tanpa pikir panjang, ia pun menerima penawaran itu. Sejak Oktober 1992, ia resmi menjadi kader PPTI Wilayah Jambi.

Syamsinar di depan rumahnya sewaktu ia mulai menjadi relawan PPTI Wilayah Jambi.


Sebelum dilantik sebagai relawan, wanita yang ketika remaja bercita-cita menjadi perawat ini mendapat pelatihan selama tiga hari. Dalam pelatihan itu ia belajar tentang TB paru dari PPTI. Ia pun mendapat pengetahuan tentang cara penyebaran TB paru, gejalanya, prosedur pengambilan contoh dahak (sputum), proses pengobatan, dan pengawasan terhadap penderita TB paru dalam minum obat.
Berbekal pengetahuan itu, ia mulai pasang mata dan telinga untuk menemukan penderita TB paru di lingkungan tempat tinggalnya di Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan, Jambi, Indonesia. Untuk memperlancar tugasnya, Syamsinar selalu berusaha hadir dalam setiap pertemuan. Misalnya, arisan RT, arisan kelurahan, dan pengajian ibu-ibu. Ia juga berusaha menghadiri setiap undangan pernikahan atau sunatan. Pada setiap kesempatan seperti itu, ia selalu minta tolong kepada mereka yang ia temui untuk memberitahunya apabila ada saudara atau tetangga yang batuk-batuk berdahak lebih dari tiga minggu.
Ternyata gayung bersambut. Banyak warga yang melaporkan kepadanya adanya orang yang batuk berdahak tiada henti. Kalau mendapat kabar ada orang yang diduga menderita TB paru (tersangka), esoknya Syamsinar mendatangi tersangka. Ia berusaha agar tersangka tidak salah paham terhadap misi yang diembannya, tidak rendah diri, dan buruk sangka. Kepada tersangka, ia memberitahukan bahwa tahap pertama pengobatan adalah pemeriksaan dahak. Bila tersangka ternyata memang menderita TBC paru, ia cukup mengatakan penyakitnya itu batuk berdahak. Tujuannya, agar mereka mau berobat hingga sembuh.
Syamsinar mengunjungi penderita hampir setiap hari. Bila rumah penderita dekat dari rumahnya, ia akan mengunjungi penderita hampir setiap hari. “Dalam sehari, saya bisa mengunjungi lima atau enam penderita,” ujarnya. Namun, kalau rumah penderita sangat jauh dari rumahnya, ia akan mengunjungi penderita seminggu sekali sembari memberikan obat untuk penderita dan menanyakan perkembangan kondisi kesehatannya.
Untuk menemui tersangka atau penderita yang ia dampingi, ia terkadang harus berjalan kaki, terkadang naik sepeda yang ia dapatkan dari PPTI berkat prestasinya menemukan penderita TB paru dalam jumlah banyak. Bahkan, tak jarang ia harus menggunakan perahu kecil untuk berpindah dari rumah satu ke rumah penderita lainnya atau menggunakan perahu bermotor untuk menyeberangi Sungai Batanghari.

Untuk mengunjungi penderita yang ia dampingi, tak jarang Syamsinar harus menggunakan perahu


Pernah dikira penipu
Delapan belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi bagi Syamsinar yang bekerja tanpa mendapatkan gaji. Namun, ia selalu melewatkan hari-harinya tanpa keluh kesah. Padahal, tidak semua penderita yang didampinginya mengerti akan tugasnya. Ada yang gampang diberi pemahaman, ada pula yang keras kepala dan menjengkelkan. Untuk mengatasinya, ia selalu menggunakan cara-cara khusus.
Sekadar contoh, untuk menyadarkan seorang ibu muda penderita TB, Syamsinar sampai mengancam bahwa suami bisa menceraikannya. Kepada penderita yang di tengah jalan hampir tidak mau lagi minum obat, ia mengancam untuk membayar kembali obat yang telah diminumnya. “Saya tahu dia tidak mampu. Ini hanya gertakan agar ia mau terus minum obat,” tuturnya. Untuk penderita yang sangat degil (bandel) mau tidak mau ia harus setiap hari mengawasi penderita itu minum obat. “Tapi mereka tidak ada yang dendam kepada saya,” tambahnya.
Dari menjalankan tugas, tentu saja ia mendapatkan banyak pengalaman. “Ada yang menyenangkan, menjijikkan, lucu, dan ada pula yang menyedihkan. Kalau hendak diceritakan tidak cukup waktu sehari,” tuturnya.
Suatu ketika, ia pernah harus mengayuh sepeda beberapa kilometer, dilanjutkan naik perahu kecil, untuk mengambil contoh dahak seorang tersangka menderita TB paru. Tetapi di tengah jalan, perahu karam yang membuatnya basah kuyup. Meski begitu, ia tetap melanjutkan perjalanan untuk menemui tersangka. Sesampainya di rumah tersangka, ia memberikan pot tempat dahak. Ia berjanji kembali esok paginya untuk mengambil dahak. Namun, apa yang terjadi? Ketika kembali ke rumah tersangka esok paginya, ternyata rumah itu digembok. “Saya kecewa sekali. Tetapi esoknya saya ulangi lagi datang ke rumahnya hingga berhasil menemuinya,” ungkapnya.
“Saat pertama melakukan pengambilan dahak, saya sangat jijik, sampai perut saya merasa mual seperti mau muntah. Bayangkan, kira-kira sampai satu bulan pekerjaan ini saya lakukan. Setiap mau makan, nafsu makan hilang, lesu teringat akan dahak tersangka,” kenangnya.
Pengalaman pahit lainnya, ketika menemui seorang ibu yang memintanya datang. Di rumah itu ia mendengar keluhan-keluhan yang disampaikan si ibu. Dari gejala-gejala itu, Syamsinar berkeyakinan si ibu menderita TB paru. Ia kemudian menjelaskan langkah-langkah pengobatannya. Si ibu menerima dengan pasrah dan sangat percaya. Ketika beberapa waktu kemudian Syamsinar datang kembali ke rumah si ibu, tiba-tiba anak ibu tersebut muncul. Dengan nada tinggi, anak penderita menyatakan tidak mungkin ibunya sembuh. Apalagi obat yang akan diberikan gratis. “Mak (ibu) saya sudah puas berobat kemana-mana, ke dokter praktik dengan obat paten. Berapa banyak harta kami jual untuk mengobati emak, kok beraninya mau mengobati emak saya dengan obat gratis. Tidak mungkinlah Bu. Payah saja usaha Ibu. Lebih baik Ibu cari saja kerja lain daripada menipu mak saya ini,” ujarnya menirukan ucapan anak tersangka yang ditemuinya. Menghadapi respons kurang baik seperti itu, Syamsinar kemudian menjelaskan bahwa ia relawan PPTI Wilayah Jambi yang bekerja tanpa gaji. Ia hanya berniat untuk membantu pengobatan si emak. Penjelasan tersebut membuat anak ibu penderita itu luluh dan menerimanya dengan baik. Pengobatan pun dilanjutkan. Bahkan, anak ibu penderita itu menjadi pengawas minum obat (PMO)-nya. Akhirnya, si ibu penderita itu berhasil sembuh.

Kesembuhan penderita tujuan utamanya.
Kisah lainnya, pada 1994 Syamsinar harus menghadapi seorang ayah muda yang menunjukkan tanda-tanda menderita TB paru. Namanya Sulaeman. Pria beranak dua itu menderita batuk berkepanjangan. Bahkan setiap kali batuk, darah segar ikut keluar dari mulutnya. Tubuhnya kurus kering dan lemah. Kulitnya pucat. Matanya sayu. Namun, ketika diajak berobat di Klinik PPTI Wilayah Jambi ia sempat menolak. Alasannya, ia sedang berobat pada seorang dukun dan takut si dukun marah.
Syamsinar tidak putus asa. Ia tetap menganjurkan Sulaeman berobat pada dokter klinik. Akhirnya mereka sepakat menemui sang dukun terlebih dahulu agar Sulaeman diijinkan berobat ke dokter. Izin sang dukun pun diperoleh. Setelah menjalani pemeriksaan dahak dan hasilnya dinyatakan positif TB paru, Sulaeman menjalani proses pengobatan. Istri dilibatkan sebagai PMO. Setelah enam bulan menjalani pengobatan si ayah muda itu berhasil sembuh. “Kalau sekarang saya tampak segar, ini berkat bantuan ibu (Syamsinar),” ujarnya.
Kini, kebun kelapa sawit yang ketika ia sakit cuma seluas 2 ha dan tak terurus lantaran penyakit TB paru, telah bertambah menjadi 10 ha dan berproduksi penuh. Sebidang kebun tanaman karet juga berhasil dimilikinya. Dari usaha perkebunan yang ia jalankan, ia berhasil menyulap rumahnya yang reyot ketika menderita TB paru menjadi rumah yang sangat bagus. Ia juga berhasil menyekolahkan anak pertamanya hingga jenjang perguruan tinggi dan anak keduanya di SMA. Kebahagiaan lainnya, Sulaeman dikaruniai seorang anak lagi setelah sembuh dari TB paru.

Syamsinar (paling kanan) bersama Sulaeman (kedua dari kiri), istri (ketiga dari kiri) dan anak ketiga Sulaeman, serta kakak Sulaeman (paling kiri).


Tak heran kalau kemudian Sulaeman merasa berhutang budi pada Syamsinar. “Jasa ibu Syamsinar ini tidak akan terbalaskan oleh saya,” jelasnya. Untuk membalas budi baik Syamsinar, ia selalu memberi Syamsinar hasil pertanian seperti sayur, ubi, kacang tanah, atau jagung yang merupakan hasil panen ladangnya. Setiap lebaran ia juga berkunjung ke rumah Syamsinar yang jaraknya cukup jauh.
Bagi Syamsinar, hadiah dari orang-orang yang berhasil dibantunya bukanlah yang diharapkan. “Tanda terima kasih itu sama sekali tak terbayang di hati saya,” tegasnya. Ia sangat menyadari bahwa orang-orang yang ia bantu bukan mereka yang berkecukupan, melainkan kaum papa. Kalaupun kemudian PPTI menghadiahi ia sebuah pin emas, itu lebih merupakan penghargaan badan sosial itu atas dedikasi dan pengabdiannya yang luar biasa sebagai relawan. Dan keberhasilan ketiga anaknya meraih gelar sarjana, boleh jadi merupakan pahala dari Tuhan atas budi baiknya selama menjadi relawan PPTI. Nenek dari dua orang cucu ini merasa bahagia kalau penderita yang didampinginya berhasil sembuh. Kesembuhan penderita yang didampinginya memang menjadi tujuan utamanya