Pak Slamet : Pejuang TB

Pak Slamet Rahayu, dengan sepeda mencegah putus obat

Di Klinik PPTI DKI Jakarta, Jln. Baladewa, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, atau dikenal sebagai Klinik Baladewa, ada seorang staf yang memiliki dedikasi luar biasa. Staf itu tak lain Pak Slamet Rahayu (62 tahun). Di kala staf lain menikmati hari libur Sabtu dan Minggu, ia mengayuh sepeda tuanya menemui pasien TB paru yang tidak datang ke klinik pada waktunya. Berkat kerja ekstranya itu, penderita terhindar dari putus obat.
Dilihat dari penampilannya, tidak ada yang istimewa dari Pak Slamet Rahayu. Staf Klinik Baladewa ini berpenampilan biasa saja. Tubuhnya mungil. Pakaian yang ia kenakan sangat sederhana. Sepatu yang ia kenakan juga sudah tampak usang dan kedodoran. Maklumlah ia memang bukan orang berada. Rumahnya yang berada di kawasan kumuh di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, dalam kondisi memprihatinkan. Sarana transportasi yang ia gunakan untuk bekerja pun hanya sepeda tua.
Namun, cobalah melihat lebih dalam. Di dalam tubuhnya yang sudah mulai renta itu tersimpan mutiara yang berkilau. Ia memiliki jiwa sosial yang luar biasa besar. Dalam segala keterbatasan yang ia miliki, ia masih mau membantu pasien TB paru Klinik Baladewa yang hampir putus obat. Caranya, dengan menemui pasien di rumahnya dan mengingatkan pasien untuk meneruskan pengobatan.
Foto 1 : Pak Slamet Rahayu. Dalam kesederhanaan membantu penderita TB paru yang papa.


Pak Slamet tidak hanya setahun atau dua tahun menjalani tugas sebagai pengingat minum obat ini. Ia telah menjalaninya tak lama setelah Klinik Baladewa berdiri pada 1978. Berkat kerja sosialnya, pasien tidak cuma merasa diperhatikan, tapi juga diselamatkan dari penyakit mematikan itu. Bagi Klinik Baladewa, kerja ekstranya telah membuat jumlah pasien yang putus obat menjadi sangat kecil. Yang tak kalah penting, kepercayaan donor yang telah membantu biaya pengobatan penderita juga terjaga.

Pasien geleng-geleng kepala
Pak Slamet mulai bekerja di Klinik Baladewa sejak 1978. Waktu itu ia sudah berkeluarga dengan seorang anak, Sri Rejeki. Di klinik ini ia bertugas sebagai petugas rumah tangga. Ia membersihkan seluruh bagian klinik. Ia menyiapkan minuman bagi karyawan klinik. Ia mengurus surat-menyurat untuk kepentingan klinik, bahkan mengirimkan ke tempat tujuan. Ketika klinik beroperasi, ia juga membantu tugas-tugas administratif klinik, termasuk membuka medical record penderita dan memanggil pasien di klinik untuk menemui dokter sesuai nomor urut.
Selain tugas rutin setiap hari sejak pukul 08.00 WIB hingga pasien habis sekitar pukul 14.00 – 15.00 WIB, ia juga mendapat tugas mencari dan menemui pasien yang tidak mengambil obat di klinik sesuai jadwal. Ia menjalani tugas ini bukan pada hari kerja, melainkan pada hari libur, Sabtu dan Minggu. Tugas inilah yang membuatnya menjadi istimewa.
Foto 2: Pak Slamet di antara pasien Klinik Baladewa


Kalau tugas itu datang, pada hari Sabtu atau Minggu ia mencari dan mendatangi rumah pasien. Di mana pun tempat tinggal pasien itu. “Maksud dan tujuannya untuk meminta keterangan mengapa pasien tidak datang,” jelasnya.
Di rumah pasien, ia akan mencari tahu keberadaan pasien. Apakah pasien masih ada, pindah berobat, pulang kampung, ataukah meninggal dunia. Kalau pasien memang masih ada, ia bertugas mengingatkan untuk meneruskan proses pengobatan dan meminta surat kesediaan berobat kembali lengkap dengan rencana waktu pasien akan berobat.
Bila dirasa perlu Pak Slamet akan memberi penjelasan, pemahaman, atau pengetahuan tentang penyakit TB paru kepada pasien atau keluarganya. Ia menjelaskan kalau mau rutin berobat penderita akan sembuh. Kalau pindah tempat berobat pasien diminta memberitahu petugas Klinik Baladewa. Kalau obatnya tidak cocok, pasien diminta memberitahu dokter klinik. Termasuk menjelaskan bila pasien putus obat, pasien tersebut wajib mengganti biaya pengobatan yang telah ia terima, sesuai perjanjian di awal pengobatan. “Hanya satu yang tidak saya sampaikan, yaitu kalau meninggal (keluarga pasien) diminta lapor. Takutnya ia tersinggung,” tutur ayah dari enam orang anak dan kakek dari sebelas cucu ini.
Kalau pasien tidak ditemukan di alamatnya, Pak Slamet akan mencari keterangan dari Ketua RT tempat tinggal pasien. Kalau pasien sudah tidak tinggal di sana lagi, ia meminta surat keterangan dari ketua RT tersebut, lengkap dengan stempelnya. Sementara, “Kalau pasien meninggal dunia, saya minta surat keterangan dari keluarganya dan fotokopi surat kematiannya,” jelas Pak Slamet. Jadi, apa pun hasil kunjungannya, ia dapat mempertanggungjawabkan.
Baginya , tugas ini memang bukan pekerjaan ringan. Tapi, tugas ini tetap ia jalani hingga saat ini.
Pasien yang Pak Slamet kunjungi bukan hanya yang dekat dari tempat tinggalnya. Yang jauh pun harus ia datangi. Hingga saat ini, pasien yang ia temui tidak cuma berada di Jakarta, melainkan juga Bogor, Depok, Tangerang, Cikarang, dan Bekasi. Namun, kebanyakan tempat tinggal mereka berada di Jakarta.
Kalau lokasi tempat tinggal pasien masih bisa dijangkau, ia tidak segan-segan untuk mengayuh sepeda tuanya untuk menemui pasien. Bila kendaraan sepeda yang ia pilih, ia bisa mengunjungi pasien yang rumahnya berkilo-kilometer dari Klinik Baladewa, dari sekitar Kemayoran, Pasar Baru, hingga Grogol. Semangat kerjanya ini tak sedikit membuat pasien yang dikunjungi terheran-heran. Ketika mengunjungi pasien di Grogol misalnya, “Pasien sempat geleng-geleng kepala milihat saya pakai sepeda. Sebetulnya rumah pasien ini di Bogor, tapi ia bekerja di Grogol. Daripada ke Bogor habis-habisin ongkos belum tentu ketemu, ya saya cari saja di tempat kerjanya,” tuturnya.
Foto 3 : Menggunakan sepeda tuanya, Pak Slamet mengunjungi pasien Klinik Baladewa


Namun, kalau rumah pasien tidak mampu ia capai menggunakan sepeda, ia menemui pasien dengan naik kendaraan umum. “Kalau rumahnya terlalu jauh, beratnya di ongkos. Kadang kala saya harus menahan lapar dan haus untuk bisa menemui pasien.Takutnya nanti bisa makan tapi tidak bisa pulang. Ha … ha … ha …,“ ungkapnya. Setiap kunjungan menggunakan kendaraan umum ia memang membekali diri dengan uang pas-pasan. Tidak terbayang baginya untuk meminta uang kepada pasien. Ia takut dedikasinya selama puluhan tahun hancur gara-gara sekali meminta uang dari pasien.”Yang kelihatan yang (minta) sekali, (dedikasi) yang puluhan tahun hilang,” jelas pria kelahiran Muntilan, Jawa Tengah, 22 Desember 1948 ini.
Karena sudah lama melakukan tugas ini, sudah banyak orang mengenalnya, sehingga dapat meringankan tugasnya. “Kalau saya masuk kampung, orang-orang pasti tahu ada yang dicari. Kadang kala ada yang bersedia mengantar mencari rumah pasien,” tuturnya.

Memberi ongkos kepada pasien
Sejauh apa pun lokasi rumah pasien, Pak Slamet menjalankan tugas ini dengan senang hati. “Kadang kala yang mengeluh justru orang rumah,” ungkapnya. “Kamu ini gimana, bekerja bukannya ngasih duit malah minta duit,” keluh istrinya, Reniwati. Keluhan istrinya itu beralasan. Maklum saja, kalau tidak ada ongkos, ia memang meminjam dulu uang kepada istrinya itu. Dengan begitu ia bisa menjalankan tugasnya.
Pada masa lalu, biaya transport untuk mengunjungi pasien ini memang selalu mendapat penggantian. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, biaya itu hanya kadang kala diganti.
Bagi orang seperti Pak Slamet, keuangan memang menjadi pembatas ruang gerak kehidupannya. Apalagi, ia tidak mendapat penghasilan tambahan selain gaji dari klinik yang, kabarnya, masih di bawah upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta. Istrinya pernah membantunya dengan membuka warung. Namun setelah memiliki cucu, usaha tersebut akhirnya tidak dilanjutkan.
Fofo 4 : Di rumahnya yang sangat sederhana


Pak Slamet menerima tugas yang berhubungan dengan penderita TB paru ini dengan penuh kesadaran. Ia sadar bahwa pekerjaannya tidak memberinya penghasilan yang besar. Ia juga sadar bahwa pekerjaannya berhubungan dengan orang berpenyakit menular. Namun, ia tidak khawatir tertular. Bahkan ketika akhirnya pada 1979 ia tertular, yang kemudian menulari anaknya, ia tetap melanjutkan tugas tersebut. “Tujuan saya, memang untuk menolong orang yang tidak mampu. Saya tidak bisa membantu uang atau harta, tapi hanya petunjuk atau nasihat menyangkut pengobatan TB,” ungkapnya. Bahkan kepada penderita yang tidak mampu, untuk ongkos perjalanan sekalipun, ia terkadang memberi uang semampunya. “Tapi saya pesan untuk tidak memberitahu orang lain. Takutnya nanti orang lain ikut minta uang. Saya sudah tidak ada uang lagi,” tambahnya.
Dalam menjalankan tugas, Pak Slamet merasa senang kalau pasien menyambut baik kedatangannya. Apalagi kalau pasien berjanji akan segera mendatangi klinik untuk berobat. Meski begitu, ia tetap minta janji tertulis mengenai kapan si pasien hendak ke klinik atau keterangan bahwa pasien telah dikunjunginya. Keterangan tertulis itu untuk bukti bahwa ia memang sudah menemui pasien.
Sebaliknya, ia sedih kalau pasien atau keluarga pasien yang ia kunjungi justru marah-marah. Tapi ia tetap menghadapinya dengan sabar sembari memberi pemahaman hingga mereka dapat menerimanya.
Untuk kasus pasien telah meninggal, “Kadang kala keluarga pasien bertanya, ‘Buat apa sih Pak, orang sudah meninggal kok masih diminta fotokopi surat kematiannya?’ (Kalau itu yang ditanyakan), ya saya jawab ‘Ini untuk laporan sama yang nyumbang. Fotokopi itu untuk barang bukti kepada pimpinan, kalau ditanya apakah saya sudah menjalankan tugas yang diberikan,’” jelasnya.
Foto 5: Menunjukkan piagam penghargaan Lencana Satya Bakti dari PPTI pada 2007


Dari kesetiaannya mengabdi di Klinik Baladewa, pada 2007 Pak Slamet mendapat penghargaan berupa Lencana Satya Bakti dan pin perak. Piagam penghargaan tersebut kini ia gantung dinding rumahnya yang sempit, sedangkan pin perak ia simpan sebagai kenangan.
Sampai kini Pak Slamet masih bersemangat menjalankan tugas. Namun, suatu saat ia harus menyerah kepada usia dan harus berhenti menjalankan tugas ini. Yang menyedihkan, sampai saat ini belum ada rekan kerja yang bersedia menggantikannya. Ia pernah mengajak dua rekan kerjanya yang masih muda ikut mengunjungi pasien, tapi keduanya menolak. “Saya akan menjalani tugas ini selama saya masih kuat,” akunya. Kini, setelah 32 tahun bertugas, sudah ribuan pasien berhasil ia kunjungi. Ia sudah merasa senang dan puas menjalankan tugas sosialnya walaupun kehidupannya sangat sederhana.

(kontributor : I Gede Agung Yudana)