Bantuan Bank Mandiri, 2009

Bantuan Hibah Bank Mandiri
Tahap V (2009), Untuk Penderita TB

Di Indonesia, penyakit TBC merupakan penyebab kematian urutan ketiga sesudah penyakit jantung dan ISPA dan setiap harinya penderita TBC baru bertambah 1464 kasus dan 241 orang diantaranya meninggal dunia. Berdasarkan data terakhir, Indonesia menempatkan diri pada peringkat ketiga, dengan jumlah penderita TBC terbesar di dunia, setelah India dan China. Penyakit tuberkulosis merupakan beban berat bagi masyarakat. Hal ini ditandai dengan prevalensi penderita TBC yang masih tinggi, dan sebagaian besar penderita adalah masyarakat miskin. Dari segi usia, 75% penderita TBC ditemukan pada kelompok usia produktif (14-54 tahun), yang berpengaruh secara ekonomi dan menyebabkan beban sosial menjadi semakin besar.
Penyakit TBC adalah penyakit yang mudah menular, disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Masalah gizi dan kondisi lingkungan yang buruk, padat atau kumuh, antara lain sebagai akibat kemiskinan bencana alam/urbanisasi memperparah dan mempercepat penularan, sehingga penyakit TBC menjadi semakin meluas.
Gejala penyakit TBC sangat umum, dan seringkali diabaikan oleh penderita. Untuk memastikan penyakit TBC, diperlukan serangkaian pemeriksaan seperti BTA (basil tahan asam) pada dahak atau pemeriksaan radiologi paru, dengan biaya yang relatif mahal bagi ukuran masyarakat tidak mampu. Sedangkan untuk pengobatan dibutuhkan waktu relatif lama (+ 6-9 bulan), dengan jenis obat dan tindakan pengobatan yang cukup banyak sehingga banyak penderita putus berobat atau tidak dapat melakukan pengobatan secara optimal. Beban penderita tuberkulosis menjadi semakin besar, akibat kehilangan pekerjaan, waktu dan kesempatan mencari nafkah.
Tingginya angka putus berobat dan rendahnya penemuan penderita TBC, disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah akibat kemiskinan. Sebagian besar penderita TBC pada umumnya miskin (75%), sehingga tidak mampu datang ke pelayanan kesehatan untuk berobat atau sekedar mengambil obat. Seringkali ditemukan, penderita TBC datang sudah pada tahap berat, sehingga membutuhkan penanganan lebih serius bahkan tidak dapat tertolong. Permasalahan lain, umumnya pengetahuan penderita tentang TBC masih sangat kurang, sehingga banyak penderita tidak melakukan pengobatan secara optimal, karena merasa sudah sembuh bila gejala sakit sudah tidak tampak. Padahal dibutuhkan bukti medis, untuk menyatakan kesembuhan penderita TBC.
Untuk meminimalkan angka putus berobat, diperlukan upaya untuk menjamin agar program pengobatan penderita TBC dapat berlangsung maksimal. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan dukungan dan bantuan secara penuh kepada penderita TBC, sejak pertama kali melakukan pengobatan hingga sembuh.
Kegagalan dalam pengobatan TBC akibat ketidakmampuan penderita untuk berobat, dapat berdampak negatif misalnya kuman menjadi resisten, penularan yang lebih meluas dan angka kematian karena TBC menjadi lebih tinggi. Penanganan TBC, membutuhkan dukungan dari berbagai sektor. Upaya yang dapat dilakukan bersama dalam memperkecil masalah TBC, adalah dengan berperan aktif menjamin program pengobatan penderita TBC dan menekan faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam pengoabatan tersebut.
Angka kunjungan penderita TBC, pada setiap klinik PPTI sangat bervariasi. Walaupun demikian, ada kecenderungan terus meningkat setiap tahunnya.
Hal tersebut makin tampak setelah adanya bantuan pengobatan dari Bank Mandiri, hingga para penderita merasa sangat terbantu karena tidak perlu lagi membayar pemeriksaan laboratorium dan rontgen, disamping mendapat bantuan uang transport pada waktu mereka mengambil obat setiap bulan dua kali.
Pada 08 September 2004 telah ditanda tangani Perjanjian Hibah Program Bina Lingkungan Nomor SH-BL/157/2004 dimana Pihak Bank Mandiri memberikan bantuan hibah sebesar Rp.55.500.000,- untuk membantu biaya pengobatan dan uang transport bagi 180 orang penderita TBC yang berobat di klinik JRC PPTI Pusat.
Pada 13 September 2005 ditanda tangani perjanjian hibah tahap kedua yang tercantum dalam Perjanjian Hibah Program Bina Lingkungan Nomor :SH-BL/103/2005, dimana pihak Bank Mandiri memberikan bantuan hibah sebesar Rp.152.500.000,- untuk membantu biaya pengobatan dan uang transport bagi 500 orang penderita TBC yang berobat di klinik JRC PPTI Pusat dan klinik PPTI Muara Angke.
Pada tanggal 1 Maret 2007 telah ditanda tangani perjanjian hibah tahap ketiga yang tercantum dalam Perjanjian Hibah program Bina Lingkungan Nomor : SH-BL/03/2007 dimana Bank Mandiri memberikan bantuan hibah sebesar Rp.245.250.000,- untuk membantu biaya pengobatan 900 (sembilan ratus) penderita TBC dari kalangan masyarakat tidak mampu yang berobat dengan strategi DOTS di klinik-klinik PPTI Pusat, Klinik PPTI Muara Angke dan Klinik PPTI Bantul.
Pada tanggal 27 Agustus 2008 telah ditanda tangani perjanjian hibah tahap ke empat yang tercantum dalam Perjanjian Hibah Program Bina Lingkungan Nomor:SH-BL/095/2008 dimana Bank Mandiri memberikan bantuan Hibah sebesar Rp.564.000.000,- untuk membantu biaya pengobatan 3000 (tiga ribu) penderita TBC dari kalangan masyarakat tidak mampu yang berobat dengan Strategi DOTS di Klinik-klinik JRC PPTI Pusat, Klinik PPTI Muara Angke dan Klinik PPTI Baladewa.
Pada tahun 2008 penderita baru TBC yang diobati di Klinik JRC berjumlah 906 orang, di Klinik Baladewa berjumlah 3066 orang dan di Klinik Muara Angke berjumlah 519 orang.
Pada tanggal 10 Desember 2009 bertempat di Klinik PPTI Muara Angke telah ditanda tangani perjanjian hibah tahap ke lima yang tercantum dalam Perjanjian hibah Program Bina Lingkungan No.S4-BL/141/2009 dimana Bank Mandiri memberikan bantuan hibah sebesar Rp.555.500.000,- untuk membantu biaya pengobatan 3000 (tiga ribu) penderita TBC.
Penyerahan hibah bantuan tahap ke lima Bank Mandiri secara simbolis diserahkan oleh Bapak Bambang Setiawan (Direktur Compliance Human Capital) PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk kepada Ibu Ratih Siswono Yudohusodo,SH (Ketua Umum PPTI).

Berikut foto kegiatan peringatan TB Day 2010 di Jawa Tengah