Seminar TB-MDR

Seminar TB-MDR, Hotel Lumire Jakarta, 20 Januari 2010

Sejak tahun 1995, Upaya penanggulangan TB nasional telah dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse chemotherapy). Penanggulangan TB dengan strategi DOTS dipercaya dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Bank Dunia juga menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost- effective.
Sampai dengan saat ini Upaya Penanggulangan TB Nasional dengan Strategi DOTS baru menjangkau 98% puskesmas, 40% rumah sakit (pemerintah dan swasta), dan seluruh RS Paru dan Balai Pengobatan Paru, sedangkan untuk dokter praktik swasta (DPS) diperkirakan hanya berkisar kurang dari 5 %.
Sampai saat ini, keterlibatan Dokter Praktik Swasta masih sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah dokter praktek swasta yang ada saat ini. Dengan adanya International Standard for TB Care (ISTC) sebagai standard pelayanan kepada pasien TB, yang sudah diterima oleh IDI dan organisasi profesi sebagai standard penangananan TB di Indonesia diharapkan seluruh dokter di Indonesia, terutama Dokter Praktek Swasta dapat secara standard ikut terlibat dalam menemukan dan menyembuhkan pasien TB dengan strategi DOTS.
Dalam penanganan pasien TB yang penting adalah bagaimana dapat mendiagnosis dengan benar dan mengobati sampai sembuh.
Pada saat yang sama selain kita mengakselerasi penemuan dan pengobatan pasien TB, kita juga sudah diharuskan untuk menghadapi berbagai tantangan yang menanti, yaitu timbulnya kasus HIV, ancaman TB kebal obat atau lebih dikenal dengan multiple drug resistance (MDR) atau bahkan extensively drug resistance (XDR). Menurut perkiraan WHO pada Global report tahun 2009, indonesia menduduki peringkat ke delapan dari 27 negara dengan beban MDR tertinggi di dunia. Diperkirakan terdapat 12.209 pasien TB MDR di seluruh Indonesia pada tahun 2007 dan akan ada sekitar 6395 pasien TB MDR baru setiap tahunnya.
Propinsi DKI Jakarta dimana merupakan ibukota negara dengan berbagai komplexsitasnya termasuk permasalahan kesehatan, dimana kita sadari bersama besarnya jumlah sarana kesehatan baik swasta dan pemerintah juga ditambah dengan jumlah praktek swasta yang tersebar diseluruh pelosok Jakarta merupakan tantangan bagi jajaran pemerintah daerah DKI Jakarta untuk dapat mengakselerasi implementasi strategi DOTS dan mencegah terjadinya TB MDR. Kebutuhan dana pengobatan yang cukup besar untuk mengobati pasien TB MDR yang akan berakibat pembebanan anggaran kesehatan pemerintah maka diharapkan kiranya upaya pencegahan menjadi titik utama dengan tidak melupakan pengobatan bagi pasien yang sudah terlanjur mengalami MDR. PPTI sebagai satu-satunya LSM yang bergerak dibidang penyakit tuberkulosis, diharapkan dapat berperan aktif membantu upaya ini bersama-sama dengan pemerintah DKI Jakarta. Perhatian yang sangat besar dari PPTI terhadap masalah TB dan bahaya timbulnya TB MDR ini perlu segera kita sikapi dengan membuat jejaring keterlibatan dan peranan PPTI dalam upaya penanggulangan TB Nasional umumnya dan di propinsi DKI jakarta khususnya.
PPTI secara tulus, mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan seminar ini.


Untuk mendowload materi seminar, (..disini..)