Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2015

Kegiatan Bakti Sosial PPTI Pusat di Kelurahan Kapuk, 2015.

Acara TB Day 2015

Menkes RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek mengunjungi stand pameran PPTI diterima Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro

Pengurus PPTI Wilayah Sumbar dilantik

Berita Pers
No.06.06.2017

Pengurus PPTI Wilayah Sumbar dilantik

Jakarta, 3 Januari 2017.
Bertempat di Aula Balai Kesehatan Olah Raga dan Pelatihan Kesehatan Sumatera Barat, tanggal 15 Desember 2016 Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro melantik Pengurus Wilayah PPTI Sumatera Barat masa bakti 2016-2021. Nama-nama pengurus dapat diklik di sini. Turut hadir dan memberikan sambutan, Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Payitno, M.Si.
Ny. Raisis Arifin Panigoro dalam sambutannya mengatakan, berdasarkan hasil prevalence survey yang dilakukan Badan Litbang Kementerian Kesehatan RI bahwa di Indonesia dalam 1 tahun terdapat 1 juta kasus baru TB dengan 100 ribu kematian. Dari jumlah tersebut, baru 324 ribu kasus TB yang ditemukan, sehingga masih ada 676 ribu kasus TB yang belum ditemukan.
“Sesuai tugas utama PPTI yaitu penyuluhan dan memberi santunan kepada pasien TB yang tidak mampu, seyogyanya PPTI dapat berkontribusi dalam menemukan kasus TB dan melakukan pendampingan pengobatan melalui para kadernya di masyarakat”, ujar Ny. Raisis.
Ketua Umum BPP-PPTI mengharapkan, PPTI Wilayah Provinsi Sumatera Barat segera membentuk kepengurusan PPTI ke setiap kabupaten/kota, karena yang bertugas melatih para kader TB adalah Pengurus Cabang PPTI Kabupaten/Kota.
Ny. Raisis mengingatkan, tugas PPTI Wilayah atau provinsi adalah :
  • Mengembangkan kepengurusan PPTI ke tingkat kabupaten/kota
  • Melakukan kerjasama dengan berbagai mitra di tingkat wilayah atau provinsi
  • Menjalankan pedoman
  • Menjadi inisiator pembentukan Forum Stop TB Partnership di tingkat provinsi
  • Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh PPTI cabang-cabang sesuai Renstra PPTI 2015 -2019
Adapun tugas PPTI Cabang atau kabupaten/kota adalah :
  • Mengembangkan kepengurusan ke tingkat kecamatan
  • Menjadi implementor program-program PPTI antara lain dengan melatih kader TB
  • Menjalankan pedoman
  • Menjadi inisiator pembentukan Forum Stop TB Partnership tingkat kabupaten/kota
  • Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan para kader per kecamatan
Sedangkan tugas PPTI tingkat Anak Cabang atau Kecamatan yaitu :
  • Melakukan supervisi terhadap kader yang berfungsi sebagai koordinator Pemantau Menelan Obat (PMO)
  • Sebagai koordinator penyuluhan kepada kelompok masyarakat yang dilakukan di desa atau kelurahan
  • Sebagai koordinator penyuluhan " door to door "
  • Sebagai koordinator dalam mengembangkan pemetaan pasien TB per - RW yang dibuat oleh kader
Ditambahkan, para kader TB yang sudah dilatih perlu dibuat Directory/buku Daftar Kader yang memuat nama, alamat dan nomor telpon. Daftar alamat tersebut disampaikan kepada rumah sakit dan Puskesmas, sehingga apabila terdapat pasien yang mangkir berobat di Puskesmas atau Rumah Sakit dapat menghubungi kader tersebut untuk dilakukan pelacakan agar bersedia kembali melanjutkan pengobatannya sampai sembuh.
Ny. Raisis menegaskan, PPTI Cabang tidak perlu merekrut kader baru, tetapi memberi pembekalan pengetahuan tentang TB kepada para kader PKK yang sudah ada. Ha ini bisa dilakukan karena telah ada payung hukumnya yaitu Perjanjian Kerjasama antara TP-PKK Pusat dengan Ketua PPTI Pusat.
Saat ini, PPTI Pusat sudah menyusun Pedoman Penyuluhan, Pedoman Pelatihan Kader dan telah mencetak Lembar Balik untuk penyuluhan TB sebagai pegangan para kader.
Berita ini disiarkan oleh BPP-PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum






Tuberkulosis dan pengobatannya

Batuk terus menerus?
Sebaiknya anda memeriksakan diri untuk mengetahui penyebabnya.
Batuk berdahak selama2 minggu atau lebih adalah salah satu gejala dari Tuberkulosis (TB). Selain batuk, ada gejala lain yang juga sering muncul seperti demam meriang, berat badan dan nafsu makan menurun, sakit dada bila sesak, sesak, sering berkeringat dimalam hari meski udara tidak panas dan kita tidak melakukan apapun bahkan tidak jarang juga batuk darah. Namun tidak jarang orang menganggap semua itu adalah gangguan kesehatan ringan, tidak ada yang serius. Padahal mungkin saja kita terkena TB. Bila tidak segera ditangani dapat membahayakan diri dan orang sekitar.
Kuman Mycobacterium tuberkulosis menular melalui udara dari orang yang sakit kepada orang lain di sekelilingnya. Saat orang yang sakit TB batuk atau bersin, jutaan kuman TB terbang ke udara dan dapat terhirup oleh kita. Meski kita menghirup kuman TB, tidak serta merta kita menjadi sakit. Kuman TB dapat tidur panjang atau dormant di dalam tubuh kita. Saat kekebalan tubuh kita menurun kuman TB dapat “bangun” dan membuat kita menjadi sakit TB diawali dengan gejala-gejala yang disebutkan di atas. Segera periksakan diri. TB bisa disembuhkan daengan pengobatan yang berkualitas.
Pemeriksaan TB dapat dilakukan di Puskesmas dan Rumah Sakit dengan pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu). Bila pemeriksaan tersebut menyatakan anda sakit TB, maka anda aan memulai pengobatan selama 6-8 bulan sesuai kondisi anda. Obat TB yang berkualitas dan sesuai standar WHO disediakan oleh pemeritah. Dapatkan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Gratis di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Daftar layanan kesehatan sebagai berikut : (list puskesmas)
Ajaklah orang yang bergejala memeriksakan diri, TOSS TB, temukan TB Obati Sampai Sembuh! (sumber dari) : www.tbindonesia.or.id

PPTI dan FSTPI hadiri konferensi IUATLD

Berita Pers
No.06.06..2016
PPTI DAN FSTPI HADIRI KONFERENSI IUATLD KE 47

Jakarta, 6 November 2016.
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dan Forum Stop TB Parthnership Indonesia (FSTPI) menghadiri Konferensi tahunan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) ke 47 yang diselenggarakan pada tanggal 26 - 29 Oktober 2016 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris.
Konferensi ini merupakan pertemuan terbesar dari para klinisi, pengelola program kesehatan, pemangku kebijakan, peneliti dan advokator yang bertujuan untuk mengakhiri penderitaan akibat penyakit paru, yang difokuskan pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan sedang. Lebih dari 10 juta orang meninggal tiap tahun akibat penyakit paru, dimana 80% diantaranya berasal dari negara dengan pendapatan rendah.
Tema yang diangkat tahun ini adalah “Confronting Resistance : Fundamentals to Innovations” yang artinya berupaya melawan melalui inovasi yang mendasar. Berbagai topik diskusi penting telah dibahas, antara lain berkaitan dengan masalah TB kebal obat, upaya pengendalian tembakau termasuk perlawanan dari industri rokok serta kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk menurunkan penggunaan tembakau.
Acara dibuka oleh President The Union yaitu Dr. E Jane Carter yang menyampaikan pesan bahwa “sejak kita berkumpul tahun lalu di Cape Town - Afrika Selatan, lebih dari 10 juta kasus TB baru ditemukan dan 1.8 juta orang telah meninggal. Kita ketahui bahwa kebal obat merupakan salah satu penghalang untuk keberhasilan melawan penyakit TB, namun sesungguhnya penghalang terbesar adalah menolak untuk berubah”. Info lebih lengkap dapat diperoleh disini
Pada konferensi kali ini, PPTI Pusat dan PPTI Cabang Depok berkesempatan menyajikan 2 buah poster dengan judul “Measuring Community Contributions to The TB Programmed by Using a Simple RR Forms and Method in 12 Districts, Indonesia, 2015” dan “Engaging Laskar TB Remaja (The Youth TB Warriors) in Depok City, Indonesia: A new hope in enhancing TB awareness” dan satu presentasi oral berjudul “Integrating strategy of door-to-door TB screening and mapping to improve TB cases detection in Depok City, West Java, Indonesia””.
Selain mengikuti berbagai sesi workshop dan simposium, Ketua Umum PPTI, Ketua FSTPI dan rombongan juga mengadakan pembicaraan dengan Dr. Lucica Ditiu (Executive Director dari Stop TB Partnership), The Global Fund, Johnson & Johnson, serta berbagai mitra lainnya guna membangun kerjasama dan dukungan bagi program yang dilakukan di Indonesia.
Berita ini disiarkan oleh BPP-PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum



Ketua Umum BPP-PPTI, Ny Raisis Arifin Panigoro (nomer 4 dari kanan) dan rombongan bersama dengan Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto (nomer 5 dari kanan) dan rombongan berfoto di depan pameran poster pada konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris



Ketua Umum BPP-PPTI, Ny.Raisis Arifin Panigoro dan Ketua Badan Pengawas, Ny. Ratih Siswono Yudo Husodo, SH di depan Poster PPTI yang dipamerkan pada konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris



Ketua Pengurus Cabang PPTI Depok, Dr.dr. Anna Rozaliani, Sp.P sedang menyampaikan presentasi di depan peserta konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris



Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia, Arifin Panigoro (tengah) dan Ketua Umum BPP-PPTI, Ny. Raisis Arifin Panigoro sedang berdialog dengan pimpinan Johnson & Johnson pada konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris

Koalisi Industri untuk Stop TB

Rapat Perdana Koalisi Industri untuk Stop TB
Langkah Awal untuk Wujudkan Upaya Konkrit Penurunan Epidemi
Tuberkulosis di Indonesia

Pada 21 September 2016, sektor industri, pemerintah, organisasi masyarakat sipil tingkat nasional dan global berkumpul untuk mulai membicarakan langkah nyata yang dapat dilakukan industri dalam menurunkan epidemi tuberkulosis di Indonesia. Pertemuan yang diadakan di Hotel JS Luwasana Jakarta tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 9 perusahaan yaitu, Johnson & Johnson Indonesia, Danone, Manulife, Alfamart, Bank Mandiri, Express Group, Indofood, BTPN, Medco Energy. Sedangkan perwakilan dari organisasi masyarakat sipil yang hadir antara lain Forum Stop TB Partnership Indonesia, Peta, KPMAK UGM, KNCV, PPTI, PP Aisyiyah, PDPI, LKNU, APINDO, dan WHO.
Acara dibuka dengan dengan pidato kunci dari dr.Wiendra Wawaruntu, MKes, Direktur Penyakit Menular Langsung, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI yang memaparkan tentang peta jalan pemerintah untuk mengakhiri TB di Indonesia pada 2035. “Indonesia memiliki beban TB yang tinggi, dimana setiap tahun ditemukan sekitar 1 juta kasus baru, dengan angka kematian 100.000 per tahun, atau setara dengan 273 orang per hari, atau setiap 1 orang meninggal setiap 3 menit akibat TB.”
Selanjutnya, Vishnu Kalra selaku Presiden Direktur Johnson & Johnson Indonesia memberikan kata sambutan sebagai perwakilan pihak penyelenggara dari pihak industri. Vishnu menekankan bahwa semua industri bisa berkontribusi untuk mengakhiri epidemi TB di Indonesia, yang dimulai dari lingkungan kerja masing-masing. “Johnson & Johnson Indonesia sangat berkomitmen untuk mencapai tujuan ini secara berkala dari tahun ke tahun. Kami telah membuktikannya, dengan memperlakukan karyawan yang terkena TB secara hati-hati sesuai dengan peraturan perusahaan yang memasukkan kaidah klinis dan etika kemanusiaan yang benar. Koalisi industri ini merupakan langkah penting dalam menyusun peta jalan industri untuk menurunkan angka TB di Indonesia.”
Pidato terakhir disampaikan oleh Arifin Panigoro selaku Ketua Stop TB Partnership Indonesia yang menyampaikan pesan tegas bahwa industri memiliki kekuatan ekonomi yang efektif dalam mendorong turunnya angka TB di Indonesia. “Melalui kebijakan perusahaan yang mendukung upaya promosi, pencegahan, dan upaya perawatan pekerja yang terkena TB; maka sebetulnya perusahaan telah berkontribusi secara langsung terhadap penurunan angka TB di Indonesia. Sudah saatnya TB diberantas, karena penularannya sangat cepat dan sangat mudah, yang mengancam siapapun tanpa memandang kelas ekonomi dan usia.”
Acara semakin hangat dengan diskusi yang menghadirkan Muttaqien, MPH dari Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK) UGM yang menyajikan data-data relevan terkait program TB. Beliau menyampaikan bahwa berinvestasi di program pengendalian TB akan mengurangi beban ekonomi dengan secara signifikan, dimana setiap Rp 1,- akan berdampak pengurangan sebanyak Rp 23,- terhadap beban kesehatan yang ditimbulkan akibat TB. Di sisi lain, dr. Sudi Astono, MS selaku Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Kementerian Tenaga Kerja RI memaparkan aturan-aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai panduan bagi perusahaan dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja para karyawannya, termasuk aturan untuk memperlakukan karyawan yang terkena TB secara layak, menjaga mereka agar tetap produktif, serta tidak menulari karyawan lainnya.
Setelah sesi paparan, peserta rapat diajak untuk berdiskusi dalam kelompok untuk menggali lebih dalam permasalahan dan proses yang terjadi di masing-masing perusahaan; sehingga terbentuk suatu landasan untuk menetapkan langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh koalisi industri ini. Acara yang dipandu oleh Mariani Reksoprodjo, Sekretaris Eksekutif Forum Stop TB Partnership Indonesia ini berhasil mengindentifikasi tujuan, sumber informasi, tenaga penggerak, usulan kegiatan, dan dampak yang diharapkan dari program promosi, preventif dan kuratif, baik untuk lingkungan internal maupun eksternal perusahaan.
Pertemuan koalisi industri ini ditutup dengan pesan kunci bahwa diperlukan peta jalan industri yang disusun bersama dengan cermat, sehingga dapat mengakomodasi langkah-langkah industri dalam menurunkan angka TB di Indonesia secara signifikan.