Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2015

Kegiatan Bakti Sosial PPTI Pusat di Kelurahan Kapuk, 2015.

Acara TB Day 2015

Menkes RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek mengunjungi stand pameran PPTI diterima Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro

Tuberkulosis dan pengobatannya

Batuk terus menerus?
Sebaiknya anda memeriksakan diri untuk mengetahui penyebabnya.
Batuk berdahak selama2 minggu atau lebih adalah salah satu gejala dari Tuberkulosis (TB). Selain batuk, ada gejala lain yang juga sering muncul seperti demam meriang, berat badan dan nafsu makan menurun, sakit dada bila sesak, sesak, sering berkeringat dimalam hari meski udara tidak panas dan kita tidak melakukan apapun bahkan tidak jarang juga batuk darah. Namun tidak jarang orang menganggap semua itu adalah gangguan kesehatan ringan, tidak ada yang serius. Padahal mungkin saja kita terkena TB. Bila tidak segera ditangani dapat membahayakan diri dan orang sekitar.
Kuman Mycobacterium tuberkulosis menular melalui udara dari orang yang sakit kepada orang lain di sekelilingnya. Saat orang yang sakit TB batuk atau bersin, jutaan kuman TB terbang ke udara dan dapat terhirup oleh kita. Meski kita menghirup kuman TB, tidak serta merta kita menjadi sakit. Kuman TB dapat tidur panjang atau dormant di dalam tubuh kita. Saat kekebalan tubuh kita menurun kuman TB dapat “bangun” dan membuat kita menjadi sakit TB diawali dengan gejala-gejala yang disebutkan di atas. Segera periksakan diri. TB bisa disembuhkan daengan pengobatan yang berkualitas.
Pemeriksaan TB dapat dilakukan di Puskesmas dan Rumah Sakit dengan pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu). Bila pemeriksaan tersebut menyatakan anda sakit TB, maka anda aan memulai pengobatan selama 6-8 bulan sesuai kondisi anda. Obat TB yang berkualitas dan sesuai standar WHO disediakan oleh pemeritah. Dapatkan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Gratis di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Daftar layanan kesehatan sebagai berikut : (list puskesmas)
Ajaklah orang yang bergejala memeriksakan diri, TOSS TB, temukan TB Obati Sampai Sembuh! (sumber dari) : www.tbindonesia.or.id

PPTI dan FSTPI hadiri konferensi IUATLD

Berita Pers
No.06.06..2016
PPTI DAN FSTPI HADIRI KONFERENSI IUATLD KE 47

Jakarta, 6 November 2016.
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dan Forum Stop TB Parthnership Indonesia (FSTPI) menghadiri Konferensi tahunan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) ke 47 yang diselenggarakan pada tanggal 26 - 29 Oktober 2016 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris.
Konferensi ini merupakan pertemuan terbesar dari para klinisi, pengelola program kesehatan, pemangku kebijakan, peneliti dan advokator yang bertujuan untuk mengakhiri penderitaan akibat penyakit paru, yang difokuskan pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan sedang. Lebih dari 10 juta orang meninggal tiap tahun akibat penyakit paru, dimana 80% diantaranya berasal dari negara dengan pendapatan rendah.
Tema yang diangkat tahun ini adalah “Confronting Resistance : Fundamentals to Innovations” yang artinya berupaya melawan melalui inovasi yang mendasar. Berbagai topik diskusi penting telah dibahas, antara lain berkaitan dengan masalah TB kebal obat, upaya pengendalian tembakau termasuk perlawanan dari industri rokok serta kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk menurunkan penggunaan tembakau.
Acara dibuka oleh President The Union yaitu Dr. E Jane Carter yang menyampaikan pesan bahwa “sejak kita berkumpul tahun lalu di Cape Town - Afrika Selatan, lebih dari 10 juta kasus TB baru ditemukan dan 1.8 juta orang telah meninggal. Kita ketahui bahwa kebal obat merupakan salah satu penghalang untuk keberhasilan melawan penyakit TB, namun sesungguhnya penghalang terbesar adalah menolak untuk berubah”. Info lebih lengkap dapat diperoleh disini
Pada konferensi kali ini, PPTI Pusat dan PPTI Cabang Depok berkesempatan menyajikan 2 buah poster dengan judul “Measuring Community Contributions to The TB Programmed by Using a Simple RR Forms and Method in 12 Districts, Indonesia, 2015” dan “Engaging Laskar TB Remaja (The Youth TB Warriors) in Depok City, Indonesia: A new hope in enhancing TB awareness” dan satu presentasi oral berjudul “Integrating strategy of door-to-door TB screening and mapping to improve TB cases detection in Depok City, West Java, Indonesia””.
Selain mengikuti berbagai sesi workshop dan simposium, Ketua Umum PPTI, Ketua FSTPI dan rombongan juga mengadakan pembicaraan dengan Dr. Lucica Ditiu (Executive Director dari Stop TB Partnership), The Global Fund, Johnson & Johnson, serta berbagai mitra lainnya guna membangun kerjasama dan dukungan bagi program yang dilakukan di Indonesia.
Berita ini disiarkan oleh BPP-PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum



Ketua Umum BPP-PPTI, Ny Raisis Arifin Panigoro (nomer 4 dari kanan) dan rombongan bersama dengan Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto (nomer 5 dari kanan) dan rombongan berfoto di depan pameran poster pada konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris



Ketua Umum BPP-PPTI, Ny.Raisis Arifin Panigoro dan Ketua Badan Pengawas, Ny. Ratih Siswono Yudo Husodo, SH di depan Poster PPTI yang dipamerkan pada konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris



Ketua Pengurus Cabang PPTI Depok, Dr.dr. Anna Rozaliani, Sp.P sedang menyampaikan presentasi di depan peserta konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris



Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia, Arifin Panigoro (tengah) dan Ketua Umum BPP-PPTI, Ny. Raisis Arifin Panigoro sedang berdialog dengan pimpinan Johnson & Johnson pada konferensi IUATLD ke 47 di The Arena Convention Center, Liverpool - Inggris

Koalisi Industri untuk Stop TB

Rapat Perdana Koalisi Industri untuk Stop TB
Langkah Awal untuk Wujudkan Upaya Konkrit Penurunan Epidemi
Tuberkulosis di Indonesia

Pada 21 September 2016, sektor industri, pemerintah, organisasi masyarakat sipil tingkat nasional dan global berkumpul untuk mulai membicarakan langkah nyata yang dapat dilakukan industri dalam menurunkan epidemi tuberkulosis di Indonesia. Pertemuan yang diadakan di Hotel JS Luwasana Jakarta tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 9 perusahaan yaitu, Johnson & Johnson Indonesia, Danone, Manulife, Alfamart, Bank Mandiri, Express Group, Indofood, BTPN, Medco Energy. Sedangkan perwakilan dari organisasi masyarakat sipil yang hadir antara lain Forum Stop TB Partnership Indonesia, Peta, KPMAK UGM, KNCV, PPTI, PP Aisyiyah, PDPI, LKNU, APINDO, dan WHO.
Acara dibuka dengan dengan pidato kunci dari dr.Wiendra Wawaruntu, MKes, Direktur Penyakit Menular Langsung, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI yang memaparkan tentang peta jalan pemerintah untuk mengakhiri TB di Indonesia pada 2035. “Indonesia memiliki beban TB yang tinggi, dimana setiap tahun ditemukan sekitar 1 juta kasus baru, dengan angka kematian 100.000 per tahun, atau setara dengan 273 orang per hari, atau setiap 1 orang meninggal setiap 3 menit akibat TB.”
Selanjutnya, Vishnu Kalra selaku Presiden Direktur Johnson & Johnson Indonesia memberikan kata sambutan sebagai perwakilan pihak penyelenggara dari pihak industri. Vishnu menekankan bahwa semua industri bisa berkontribusi untuk mengakhiri epidemi TB di Indonesia, yang dimulai dari lingkungan kerja masing-masing. “Johnson & Johnson Indonesia sangat berkomitmen untuk mencapai tujuan ini secara berkala dari tahun ke tahun. Kami telah membuktikannya, dengan memperlakukan karyawan yang terkena TB secara hati-hati sesuai dengan peraturan perusahaan yang memasukkan kaidah klinis dan etika kemanusiaan yang benar. Koalisi industri ini merupakan langkah penting dalam menyusun peta jalan industri untuk menurunkan angka TB di Indonesia.”
Pidato terakhir disampaikan oleh Arifin Panigoro selaku Ketua Stop TB Partnership Indonesia yang menyampaikan pesan tegas bahwa industri memiliki kekuatan ekonomi yang efektif dalam mendorong turunnya angka TB di Indonesia. “Melalui kebijakan perusahaan yang mendukung upaya promosi, pencegahan, dan upaya perawatan pekerja yang terkena TB; maka sebetulnya perusahaan telah berkontribusi secara langsung terhadap penurunan angka TB di Indonesia. Sudah saatnya TB diberantas, karena penularannya sangat cepat dan sangat mudah, yang mengancam siapapun tanpa memandang kelas ekonomi dan usia.”
Acara semakin hangat dengan diskusi yang menghadirkan Muttaqien, MPH dari Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK) UGM yang menyajikan data-data relevan terkait program TB. Beliau menyampaikan bahwa berinvestasi di program pengendalian TB akan mengurangi beban ekonomi dengan secara signifikan, dimana setiap Rp 1,- akan berdampak pengurangan sebanyak Rp 23,- terhadap beban kesehatan yang ditimbulkan akibat TB. Di sisi lain, dr. Sudi Astono, MS selaku Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Kementerian Tenaga Kerja RI memaparkan aturan-aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai panduan bagi perusahaan dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja para karyawannya, termasuk aturan untuk memperlakukan karyawan yang terkena TB secara layak, menjaga mereka agar tetap produktif, serta tidak menulari karyawan lainnya.
Setelah sesi paparan, peserta rapat diajak untuk berdiskusi dalam kelompok untuk menggali lebih dalam permasalahan dan proses yang terjadi di masing-masing perusahaan; sehingga terbentuk suatu landasan untuk menetapkan langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh koalisi industri ini. Acara yang dipandu oleh Mariani Reksoprodjo, Sekretaris Eksekutif Forum Stop TB Partnership Indonesia ini berhasil mengindentifikasi tujuan, sumber informasi, tenaga penggerak, usulan kegiatan, dan dampak yang diharapkan dari program promosi, preventif dan kuratif, baik untuk lingkungan internal maupun eksternal perusahaan.
Pertemuan koalisi industri ini ditutup dengan pesan kunci bahwa diperlukan peta jalan industri yang disusun bersama dengan cermat, sehingga dapat mengakomodasi langkah-langkah industri dalam menurunkan angka TB di Indonesia secara signifikan.

Cerita Sukses dari Kader TB

Cerita Sukses dari Kader TB Sumiyati


Ujung tombak keberhasilan program pemberantasan TB adalah para kader yang mencari, mendampingi, serta mengayomi setiap suspek dan pasien. Selain memiliki jiwa sosial yang tinggi, juga dibutuhkan keberanian mengambil keputusan, meskipun kadang berisiko. Itulah yang dialami oleh kader TB Sumiyati berikut ini.
Sumi, panggilan akrab dari Sumiyati, adalah seorang kader TB Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Sumi merupakan sosok aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di daerahnya, yaitu Kalipasir. Pada usia 40 tahun ini, Sumi aktif sebagai kader posyandu, hal yang sudah ia jalani selama puluhan tahun lalu.
Sumi adalah penduduk asli Kalipasir, kegiatan sehari-harinya sebagai penjual roti keliling. Kegiatan menjual keliling ini sangat disukainya karena, menurut dia, sambil dagang, ia banyak berinteraksi dengan orang sehingga menambah teman dan saudara. Sumi memiliki dua anak berumur 12 tahun dan 3,5 tahun. Anaknya yang besar tinggal bersama ibunya yang tak jauh dari rumahnya. Sumi hanya tinggal bersama suami dan anaknya yang kecil.
Rumah berlantai dua di Jalan Kalipasir Gang Tembok RT 005 RW 010 Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, itu merupakan tempat tinggal Sumi. Rumah tersebut milik orangtua Sumi. Lantai satu dikontrakkan kepada orang lain, sedangkan Sumi tinggal di lantai dua. Rumahnya berukuran 8 meter x 2 meter itu terdiri dari dua kamar tidur, kamar mandi, dan dapur.
Dengan kondisi tempat tinggal yang sederhana dan sempit ini, Sumi harus berbagi tempat tinggal dengan pasien TB yang sedang didampinginya.
Adalah Sofyan (34), laki-laki berperawakan kecil dan kurus pernah mendekam di Lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang karena terlibat kasus narkoba, merasa sudah tak mempunyai keluarga yang peduli terhadap dirinya. Ibu Sofyan sudah meninggal karena sakit dan ayah Sofyan menikah lagi dan tinggal di Serang, Banten. Ayahnya sudah tak peduli lagi kepada Sofyan sehingga dia dirawat dan dibesarkan oleh neneknya di daerah Kalipasir.
Sofyan putus sekolah pada saat kelas IV SD karena tidak ada biaya. Sofyan merasa dirinya sendiri tak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa karena neneknya juga sudah makin tua. Sofyan memutuskan menjadi tukang ojek guna memenuhi segala kebutuhan hidupnya dan membantu kebutuhan sehari-hari nenek dan adiknya.
Kehidupan Sofyan sebagai tukang ojek sangat rawan dengan penyalahgunaan narkoba. Hingga pada suatu hari Sofyan terkena penggeledahan narkoba oleh polisi dan proses hukum menetapkan Sofyan menjadi terdakwa dan dikenai hukuman 4 tahun 8 bulan penjara.
Ketika dalam masa pidana, kerabat dekat Sofyan tak pernah menjenguknya ke LP. Hanya Ibu Sumi (berkerabat jauh dan dipanggil kakak oleh Sofyan) yang mau menengoknya minimal tiga bulan untuk mengetahui bagaimana keadaan Sofyan dan membawa beberapa kebutuhan pakaian atau makanan untuk Sofyan.
Sumber dari : http://cepat-lknu.org/berita/cerita-sukses-dari-kader-tb-sumiyati/