Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2015

Kegiatan Bakti Sosial PPTI Pusat di Kelurahan Kapuk, 2015.

Acara TB Day 2015

Menkes RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek mengunjungi stand pameran PPTI diterima Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro

Kongres X PPTI

Berita Pers
No. 06.06.249.2016

KONGRES X-PPTI DI JAKARTA


Jakarta, 5 Agustus 2016.
Sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sekaligus bertepatan dengan ulang tahun ke-49, PPTI Pusat akan menggelar Kongres X di Jakarta. Tujuan Kongres adalah menetapkan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat dan Ketua Badan Pengawas Pusat PPTI. Selain itu, dalam Kongres juga akan dilakukan penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro minta Pengurus PPTI baik di Wilayah dan Kabupaten / Kota untuk menyusun daftar kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada kurun waktu 2012 – Desember 2016. Hal itu disampaikan pada acara Halal Bihalal PPTI tanggal 27 Juli 2016.
“Surat untuk informasi ini sudah dikirim beberapa waktu yang lalu lengkap dengan batas waktu penyampaiannya”, ujarnya.
Ketua Umum BPP-PPTI mengharapkan semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan selalu mengacu pada ketentuan yang tercantum pada Rencana Strategis PPTI yang telah disepakati pada Konferensi Kerja tahun 2015 yang lalu, sehingga mudah memonitor, merangkum dan mengevaluasinya. Hal ini penting agar PPTI dapat menyajikan besaran kontribusi terhadap capaian target pengendalian TB secara nasional.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum BPP PPTI mengucapkan selamat dan sukses kepada DR. Dr. Anna Rozaliani, Mbiomed SpP, Ketua Pengurus Cabang PPTI Kota Depok dan DR. Dr. Dina Bisara Lolong, MA, Anggota Bidang Penyuluhan, Diklat dan Yanmed PPTI Pusat yang telah memperoleh gelar Doktor di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu.
Ny. Raisis menambahkan, pada tahun ini PPTI untuk yang kedua kalinya berpartisipasi pada ajang Internasional Union World Conference pada bulan Oktober 2016 di Liverpool Inggris. Pada kesempatan tersebut, akan dipresentasikan poster sebanyak 2 buah dan presentasi oral sebanyak 1 buah, masing-masing karya Dr. Henry Diatmo dari PPTI Pusat 1 buah presentasi poster dan karya DR. Dr. Anna Rozalina, Sp.P dari PPTI Cabang Kota Depok 1 buah presentasi poster dan 1 buah presentasi oral.
Presentasi yang pertama pada tahun 2014 di Barcelona Spanyol dengan menampilkan dua presentasi poster dan satu presentasi oral, ketiga-tiganya karya PPTI Cabang Kota Cimahi.
PPTI Pusat senantiasa mendorong pengurus PPTI Wilayah dan Cabang untuk berkiprah di kancah internasional. Salah satu wahananya adalah Union World Conference yang di selenggarakan setiap tahun.
Berita ini disiarkan oleh BPP-PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum









SELAMAT DAN SUKSES


Pengurus Pusat PPTI mengucapkan selamat dan sukses atas diperolehnya gelar Doktor :
  1. DR. Dr. Anna Rozaliani, Mbiomed SpP, Ketua Pengurus Cabang PPTI Kota Depok.
  2. DR. Dr. Dina Bisara Lolong, MA, Anggota Bidang Penyuluhan, Diklat dan Pelayanan Medik PPTI Pusat.

Separuh Hidupnya untuk Berbagi

Nurheli, Separuh Hidupnya untuk Berbagi


Berjalan kaki menyusuri kampung, melewati gang sempit yang padat penduduk di bawah teriknya sang mentari tentu bukanlah hal yang mudah bagi orang yang tengah lanjut usia.
Namun hal tersebut tak menjadi masalah bagi Nurheli (63 tahun) untuk tetap semangat masuk dari rumah ke rumah untuk mencari suspek dan mendampingi pasien TB.
Nurheli merupakan salah seorang kader CEPAT LKNU Kelurahan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Perempuan yang kerap kali dipanggil Bu Hajjah oleh warga sekitar memang tak diragukan lagi keseriusannya dalam membantu sesama. “Sudah 36 tahun saya menjadi kader Posyandu, sekarang sebagai koordinator Jumantik, memantau jentik sekaligus kasih informasi tentang TB,” tutur Nurheli dengan senyum mengembang.
Diawali dari keaktifannya sebagai kader Posyandu, lalu ada teman yang mengajaknya untuk mengikuti pelatihan kader CEPAT LKNU, dan sejak Maret 2014, ibu dari 4 orang anak ini telah bergabung sebagai kader TB CEPAT LKNU. Baginya, kader merupakan ujung tombak pengendalian TB di masyarakat. Dia menyampaikan bahwa pasien ditangani oleh dokter saja tidak cukup. Perbandingan jumlah dokter dengan orang yang sakit TB tidak seimbang. Dokter juga tidak mungkin masuk ke rumah-rumah pasien untuk mendampingi. Berbeda dengan kader yang biasa bermasyarakat dan kehadirannya lebih mudah diterima oleh pasien.
Selama kurang lebih 2 tahun Nurheli menjadi kader CEPAT LKNU telah 10 orang pasien TB yang didampingi hingga sembuh. Nurheli sangat telaten mendampingi para pasien TB dan hal tersebut dilakukannya dengan tulus tanpa pamrih. “Saya pengin membantu, kalau kader kan sosial dan banyak yang gak mau, kalau hanya mengandalkan dari orang Kelurahan saja ya pasti gak ada yang turun. Kader kan gak digaji, gak dapet apa-apa, paling dapat transport sekedarnya, ya sukarelawan gitu,” ungkapnya dengan nada penuh ketulusan.
Kegiatan untuk menemukan suspek yang kerap dilakukan perempuan asli Padang ini yaitu dengan jalan memutar ke rumah-rumah warga sembari memberikan brosur dan menjelaskan mengenai bahaya penyakit TB, bagaimana gejala orang yang terkena TB, bagaimana orang bisa tertular penyakit TB dan pencegahan penularan TB. Pada brosur dituliskan nomor handphone Nurheli supaya kalau ada orang yang mempunyai gejala bisa menghubunginya. Melalui cara tersebut ada orang yang telpon bahwa ada gejala lalu diberilah surat pengantar untuk periksa ke Puskesmas terdekat.
Berdasar pengalamannya saat memberikan sosialisasi mengenai TB, ternyata banyak orang yang awalnya belum tahu bahwa TB itu adalah TBC, dan TB merupakan penyakit yang berbahaya, namun demikian TB sebenarnya bisa disembuhkan dengan berobat rutin selama 6 bulan.
Hingga kini, Nurheli telah menemukan 22 suspek TB. “TB sekarang sudah menjadi prioritas di masyarakat, karena masyarakat sudah sadar bahayanya TB, karena sosialisasi dari kader dengan kader ngasih pengarahan ke warga sehingga tahu bahaya dan akhirnya mau berobat,” pungkasnya, sebagai tanda kepuasan Nurheli yang telah berhasil memutus mata rantai penularan penyakit TB. (Elina/Jakarta)
Sumber dari : http://cepat-lknu.org/activity/nurheli-separuh-hidupnya-untuk-berbagi/

Modal Dagang

Modal Dagang di Kebon Kacang


RW 7 Kelurahan Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang merupakan salah satu RW Siaga yang telah aktif dalam kegiatan pengendalian TB di lingkungan sekitar. Kondisi perkampungan di RW siaga tersebut sangat padat karena berada di perkotaan dan juga dekat dengan pusat perbelanjaan terkenal yaitu Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Awalnya kegiatan RW Siaga yang masih berjalan yakni Posyandu balita dan Jumantik. Namun sejak adanya kader Asmah (48 th) dan Nurheli (63 th) yang mempelopori kegiatan penemuan suspek dan pendampingan pasien TB maka sekarang RW siaga tersebut sudah berpartisipasi dalam pengendalian TB di lingkungannya.
Pada Agustus 2015, RW Siaga tersebut mendapatkan dana pancingan dari CEPAT LKNU sebesar Rp 2.500.000 dengan alokasi dana Rp 2.000.000 untuk operasional kader, dan Rp 500.000 digunakan untuk dana bergulir sebagai modal untuk usaha bagi masyarakat.
Semenjak menjalankan program TB dengan menerima dana pancingan dari CEPAT-LKNU, pada 22 Agustus 2015 yang lalu, RW Siaga ini telah menemukan 9 suspek dan mendampingi 4 pasien yang hingga kini statusnya masih dalam pengobatan.
Pengurus RW Siaga sepakat bahwa pengembalian dana bergulir ditambahkan 10%, bisa dengan sistem cicilan dan dibatasi maksimal 3 bulan dari tanggal pinjam. “Dari situ sudah ada yang meminjam modal berdagang es jus sebesar Rp 300.000,- juga untuk modal usaha kelompok sebanyak Rp 200.000,-“ ujar Nurheli yang merupakan bendahara RW siaga.
Usaha kelompok yang dimaksud adalah membuat kerajinan tangan dari acrylic, benang woll/sulam, maupun kain perca. Berbagai macam kerajinan, seperti membuat bunga dari acrylic, bros, dan kebanyakan pernak-pernik untuk perempuan. “Kami berusaha untuk kreatif dengan mulai membuat kerajinan tangan, hasil penjualan itu dikumpulkan lalu disimpan untuk dipakai mencari pasien TB dan untuk biaya TB,” papar Nurheli. Produk kerajinan tersebut dijual jika ada pameran atau bazar, jika ada kegiatan kelurahan, maupun posyandu.
Dengan dana yang ada, rencana akan dialokasikan untuk memberi makanan tambahan bagi pasien TB, membantu transport pasien atau bahkan mengambilkan obat pasien, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan kesehatan dan sosial.
Kegiatan RW Siaga akan tetap berjalan walaupun program CEPAT-LKNU akan berakhir, hal ini dikarenakan sudah banyak orang yang kenal dan tahu bahwa ada kader TB dan jika ada orang yang menderita TB atau mempunyai gejala TB akan menginformasikan ke kader.
“Ya bagi kami, kalau kami tak peduli pada mayarakat, siapa yang peduli pada mereka,” pungkas Nurheli. (Elina/ Jakarta)
Sumber dari : http://cepat-lknu.org/activity/modal-dagang-di-kebon-kacang/