Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2015

Kegiatan Bakti Sosial PPTI Pusat di Kelurahan Kapuk, 2015.

Acara TB Day 2015

Menkes RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek mengunjungi stand pameran PPTI diterima Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro

KETUA UMUM BPP-PPTI MASA BAKTI 2017-2022

Berita Pers
No.06.06.226.2017

NY. ARIFIN PANIGORO KETUA UMUM BPP-PPTI MASA BAKTI 2017-2022



Jakarta, 31 Mei 2017.
Salah satu tujuan utama Kongres PPTI adalah memilih Ketua Umum BPP-PPTI dan Ketua Badan Pengawas Pusat PPTI. Kongres X-PPTI yang dihadiri 129 orang yang berasal dari Pengurus Pusat, 12 Perwakilan Pengurus Wilayah dan 39 Perwakilan Pengurus Cabang serta 10 orang peninjau secara aklamasi memilih dan menetapkan Ny. Raisis Arifin Panigoro sebagai Ketua Umum BPP-PPTI dan Dr. Achmad Sujudi, Sp.B., MHA sebagai Ketua Badan Pengawas Pusat PPTI Masa Bakti 2017-2022.

Sebelum acara pemilihan, Panitia Kongres X-PPTI mengajukan tiga nama untuk kandidat Ketua Umum BPP-PPTI masa bakti 2017-2022 yaitu Ny. Raisis Arifin Panigoro, Ketua Umum BPP-PPTI, Dr. Yetti Saleh, Ketua II BPP-PPTI dan Ny. Bintarti Meilono Soewondo, Bendahara BPP-PPTI masa bakti 2012-2017. Namun karena satu dan lain hal, Dr. Yetti Saleh dan Ny. Bintarti Meilono Soewondo mengundurkan diri dari pencalonan.

Begitu juga untuk kandidat Ketua Badan Pengawas, semula diajukan tiga nama yaitu Dr. Achmad Sujudi, Sp.B., MHA, anggota Badan Pengawas Pusat PPTI masa bakti 2012-2017, Ny. Ratih Siswono Yudo Husodo, SH, Ketua Badan Pengawas Pusat PPTI masa bakti 2012-2017 dan Ny. Ishadi SK, Ketua II BPP-PPTI masa bakti 2012-2017. Di saat-saat menjelang pemilihan, Ny. Ratih Siswono Yudo Husodo, SH dan Ny. Ishadi, menarik diri dari kandidat Ketua Bawas.

Hasil Kongres X-PPTI selengkapnya adalah :

  1. Menyepakati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PPTI untuk digunakan sebagai rujukan utama organisasi tahun 2017– 2022.
  2. Memberikan waktu kepada Ketua Umum terpilih sebagai formatur untuk membentuk Pengurus Pusat PPTI selama-lamanya 60 (enam puluh) hari setelah keputusan ini ditetapkan.
  3. Mewajibkan pengurus PPTI disetiap tingkatan untuk menggunakan berbagai pedoman yang telah disusun oleh PPTI Pusat dan telah disetujui pada saat Konferensi Kerja PPTI pada tanggal 21 – 22 Mei 2015 di Jakarta.
  4. Mewajibkan kepada pengurus PPTI disetiap tingkatan untuk berupaya mengembangkan organisasi ke tingkat dibawahnya sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.
  5. Mewajibkan kepada pengurus PPTI disetiap tingkatan untuk menjalankan tata kelola/manajemen sumber daya secara bertanggung jawab dan akuntabel sesuai pedoman dan peraturan yang berlaku.
  6. Memprioritaskan kegiatan yang berujung pada kontribusi terhadap capaian target indikator nasional.
  7. Menyelaraskan setiap rencana kerja dengan visi, misi, strategi, beserta indikator dan target yang tertera pada Rencana Strategis PPTI.
  8. PPTI disetiap tingkatan wajib melaporkan kegiatan pada butir ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh secara berjenjang setiap tahun, yaitu pada bulan Februari tahun berikutnya.
  9. Mengajukan rekomendasi Kongres X PPTI kepada pemerintah dan sesama mitra dalam rangka penanggulangan tuberkulosis.
Kongres dibuka Dr. Sigit Priohutomo, MPH, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK RI. Pada kesempatan tersebut juga dipaparkan Capaian Kegiatan/Contoh Praktik Terbaik yang disampaikan Ketua Pengurus Cabang PPTI Kota Depok, Jawa Barat DR. dr. Anna Rozaliani, M.Biomed., Sp.P., dan Ketua Pengurus Cabang PPTI Kabupaten Batanghari, Jambi Dr. Hermina Basri, MKM

Berita ini disiarkan oleh Badan Pengurus Pusat PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com.

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo.
Sekretaris Umum

Penghargaan PPTI

Berita Pers
No.06.06.226.2017

PARA PENERIMA PENGHARGAAN PPTI



Jakarta, 31 Mei 2017.
Untuk menjalankan visi dan misinya, PPTI memerlukan dukungan dan komitmen yang kuat serta bantuan dari berbagai pihak baik internal maupun eksternal organisasi. Sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan moril maupun materiil dalam memajukan gerak langkah PPTI selama kurun waktu 2012-2017, Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro menyerahkan penghargaan kepada :

  1. Laboratorium Klinik Gunung Sahari
  2. AMSA Trisakti
  3. Ananda Mathew Budi Stiawan
  4. PT Bank CIMB Niaga
  5. PT Indofood Sukses Makmur
  6. PT Tiga Raksa Satria
  7. PT Sinar Mas
  8. PT Unilever Indonesia
  9. Ny. Lily Sidharta, Pengurus PPTI masa bakti 1998-1997
  10. Ny. Sri Saraswati Wibowo, swasta
  11. Dr. Yetti Saleh, Ketua II BPP-PPTI
  12. Ny. Bintarti Meilono Soewondo, Bendahara BPP-PPTI
  13. Ny. Lies B. Soemarto, Ketua Bidang Organisasi dan Hukum BPP-PPTI
  14. Ny. Sri Wahyuni Bambang Subianto, Ketua Bidang Dana, Usaha dan Sosial BPP-PPTI
  15. Ny. Masdayani, SH, Anggota Bidang Organisasi dan Hukum BPP-PPTI
Penghargaan diserahkan pada acara pembukaan Kongres X-PPTI tanggal 21 Mei 201 di Jakarta bertepatan dengan 49 tahun berdirinya PPTI.

Berita ini disiarkan oleh Badan Pengurus Pusat PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com.

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo.
Sekretaris Umum

680 RIBU KASUS BARU TB

Berita Pers
No.06.06.226.2017

680 RIBU KASUS BARU TB BELUM DITEMUKAN



Jakarta, 31 Mei 2017.
Menurut Laporan WHO Tahun 2016, di Indonesia setiap tahun ditemukan 1 juta kasus baru TB. Dari jumlah itu, baru 320 ribu yang ditemukan. Berarti masih ada 680 ribu kasus baru TB yang belum ditemukan. Hal itu disampaikan Dr. Sigit Priohutomo, MPH Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI saat memberikan sambutan sekaligus membuka Kongres X-PPTI, tanggal 21 Mei 2017 di Jakarta.

Dr. Sigit menambahkan, beban TB semakin berat karena terus bertambahnya kasus TB kebal obat (TB-MDR), HIV/AIDS, diabetes mellitus dan sulitnya menghentikan kebiasaan merokok. Melihat target yang akan dicapai yakni eliminasi TB pada tahun 2035 (incidence rate-nya kurang dari 10 per 100 ribu penduduk), masih sangat jauh dan waktu yang tersedia tinggal 15 tahun lagi.

Deputi 3 Kemenko PMK RI menambahkan, melihat situasi tersebut, mau tidak mau diperlukan upaya yang lebih keras lagi dan akan sangat efektif bila dilaksanakan secara terpadu, melibatkan semua komponen masyarakat, terus menerus dan diarahkan pada sasaran yang tepat baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun tingkat pusat sebagai regulator.

“ Seperti juga dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit pada umumnya, penanggulangan TB membutuhkan upaya bersama dengan melibatkan peranserta masyarakat Madani, layanan kesehatan yang baik serta upaya inovatif untuk menurunkan beban finansial penderita TB ”, ujar Dr. Sigit.


PPTI merupakan salah satu civil society organization yang banyak membantu pemerintah terutama pada tataran komunitas untuk berkontribusi dalam menemukan kasus TB dan pendampingan dalam proses pengobatan serta penyuluhan kepada masyarakat, imbuh Dr. Sigit.

Deputi 3 Kemenko PMK RI mengharapkan seluruh jajaran pemerintah bersama seluruh masyarakat termasuk organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan dan dunia usaha dan khususnya Pengurus PPTI di seluruh Indonesia tetap semangat dan makin semangat untuk membantu pemerintah, berpartisipasi aktif dan memberikan dukungan dalam menyukseskan upaya pencegahan dan pengendalian TB di Indonesia.


Ketua Umum BPP-PPTI, Ny. Raisis Arifin Panigoro menyatakan, saat ini PPTI genap berusia 49 tahun. Setiap 5 tahun diselenggarakan kongres yang dihadiri seluruh Pengurus Pusat, perwakilan Pengurus Wilayah dan Cabang. Tujuan utamanya adalah menyepakati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PPTI, memilih Ketua Umum Badan Pengurus Pusat PPTI dan Ketua Badan Pengawas Pusat PPTI masa bakti 2017-2022.


Pada kesempatan tersebut, Dr. M. Akhtar, Medical Officer TB Communicable Diseases WHO juga memberikan pencerahan tentang Analisa, Situasi TB dan Tantangannya.

Dalam kongres tersebut, PPTI memberikan penghargaan kepada perorangan, institusi maupun pengurus yang telah memberikan dukungan dan komitmen yang kuat bagi kemajuan PPTI. Para penerima penghargaan dapat diklik di sini.

Berita ini disiarkan oleh Badan Pengurus Pusat PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com.

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo.
Sekretaris Umum

Terapkan GERMAS dan Pendekatan Keluarga

Terapkan GERMAS dan Pendekatan Keluarga untuk Temukan dan Obati Kasus TB



Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan RI menghelat ‘Puncak Peringatan Hari TB Sedunia Tahun 2017’ pada Sabtu, 1 April 2017 di Gedung Balai Kota Provinsi DKI Jakarta. Tahun ini Kemenkes RI mengusung tema Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis.

“Tema ini sangat relevan dengan Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB) di Keluarga,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila Farid Moeloek dalam sambutannya. “Dengan tema ini kita berharap agar peringatan Hari TB Sedunia benar-benar akan mendorong, meningkatkan peran serta dan dukungan masyarakat dalam program penanggulangan TB. Selain itu juga mampu menempatkan TB sebagai masalah bersama,” tambah Menkes RI.

Beberapa tantangan dalam pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis adalah menemukan dan mengobati semua penderita TB sampai sembuh. Hal ini dilakukan agar semua penderita TB di Indonesia dapat kembali sehat, hidup berkualitas, dan produktif. Di samping itu juga untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dalam memenuhi tujuan Pembangunan Kesehatan. Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB) di masyarakat merupakan wujud pelayanan Pengendalian TB. Melalui gerakan TOSS TB semua pasien dapat ditemukan dan diobati sampai sembuh sehingga mereka dapat hidup layak, bekerja dengan baik dan produktif, serta tidak menjadi sumber penularan TB di masyarakat.

Untuk memperkuat Gerakan TOSS TB, Pemerintah bersama masyarakat telah memulai pula Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS dengan kegiatan utama antara lain (1) Peningkatan aktivitas fisik, (2) Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, (3) Penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, (4) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, (5) Peningkatan kualitas lingkungan, (6) Peningkatan edukasi hidup sehat. GERMAS ini didukung penerapannya melalui Pendekatan Keluarga. Pendekatan Keluarga dilaksanakan oleh Puskesmas dengan kunjungan rumah berkala oleh petugas kesehatan, guna (a) melakukan deteksi dini masalah kesehatan, (b) pengobatan segera bagi yang sakit, (c) melakukan upaya promotif-preventif, dan (d) melakukan penanggulangan faktor risiko kesehatan dalam keluarga.

“Dengan penerapan Germas dan Pendekatan Keluarga harapannya bisa mensukseskan penemuan dan pengobatan pasien TB,” tutur Menkes RI, Nila Moeloek.

Dukungan Seluruh Sektor
Dukungan seluruh masyarakat, termasuk dukungan pelayanan kesehatan swasta, diharapkan akan semakin meningkatkan kinerja Pengendalian TB di Tanah Air. Hingga kini success rate pengobatan TB di Indonesia mencapai 90%. Artinya, 90% pasien TB yang diobati di Indonesia berhasil disembuhkan dan rantai penularan TB dapat diputuskan dan diakhiri.

Aplikasi Wajib Notifikasi TB (WiFi TB)
Pada kesempatan tersebut, Menkes meluncurkan Aplikasi Wajib Notifikasi TB (WiFi TB). Dengan aplikasi ini tenaga kesehatan swasta terutama Dokter Praktik Mandiri dan klinik pratama sangat diharapkan melakukan penemuan dan pengobatan pasien TB sesuai standar dan menyampaikan notifikasinya kepada Dinas Kesehatan setempat. Pemanfaatan aplikasi ini adalah terobosan atau inovasi dalam sistem pelaporan kasus TB atau notifikasi kasus TB.

Aplikasi Wajib Lapor Notifikasi TB (WIFI TB) merupakan sebuah aplikasi berbasis telepon pintar (smartphone) dan bisa diunduh melalui apllication store yang diperuntukkan bagi Dokter Praktek Mandiri dan Klinik Pratama, sebagai sarana untuk memudahkan dalam melaporkan kasus TB yang ditangani di masing-masing tempat prakteknya.

Sumber dari : www.depkes.go.id