Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2011

Kegiatan Baksi Sosial PPTI di Cirebon, 2011.

Audensi PPTI dengan Mendagri

Ketua Umum PPTI melakukan audensi kepada Mendagri, 2010.

Acara TB Day 2010

Pembukaan Acara TB Day 2010 di Jakarta, Ketua Umum PPTI-Menkes-Menkokesra.

Kegiatan PPTI Cabang Kab. Tulung Agung



RAKOR PPTI Cabang Kab. Tulung Agung tanggal 24 Desember 2014 bertempat di Aula STIKES Abdi Husada, dihadiri oleh Ibu Wakil Bupati Tulungagung Ny. Siyuk Maryoto Birowo, acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.


Para undangan, Pengurus PPTI Cabang Kab. Tulung Agung dan Pengurus PPTI Anak Cabang dari 19 Kecamatan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan khidmat.


Ibu Wakil Bupati Tulungagung Ny. Siyuk Maryoto Birowo didampingi oleh Ketua I PPTI Cabang Kab. Tulung Agung Dr. Bambang Sadworo Wisnuwardono, Sp.P dan Ketua II PPTI Kabupaten Tulungagung sedang menyimak laporan Ketua Panitia Rakor PPTI Dra. Triswati Sasmito, M.Kes.


Usai Rakor PPTI diadakan penggalangan dana untuk bedah rumah paisen TB MDR yang tidak mampu.


Dana yang terkumpul diserahkan langsung oleh Ibu Wakil Bupati Tulungagung Ny. Siyuk Maryoto Birowo kepada Bapak Lurah tempat domisili pasien di Kecamatan Ngunut.


Acara Inti Rakor PPTI yaitu pemaparan materi tentang Penguatan Kelembagaan, Situasi perkembangan TB di Kabupaten Tulungagung, Review kegiatan PPTI yang telah dilaksanakan sepanjang Tahun 2014 dan pembuatan RTL dari tim PPTI Anak Cabang untuk kegiatan Tahun 2015.


Peserta Rakor sedang menyimak dengan seksama selama acara pemaparan materi disampaikan oleh nara sumber.

Baksos PPTI Pusat di Cianjur

Berita Pers
No.06.06.567.2014


BAKTI SOSIAL PPTI PUSAT DI CIANJUR


Jakarta, 17 Desember 2014.
Bertempat di Perkebunan Teh Maleber, Desa Ciherang, Kec. Pacet, Kab. Cianjur, Jawa Barat, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) tanggal 17 Desember 2014 menggelar bakti sosial berupa penyuluhan tentang penyakit tuberkulosis (TB), pemeriksaan dan pengobatan secara gratis dan memberi bantuan bahan pangan dan bahan kebersihan (personal hygine) kepada masyarakat tidak mampu khususnya pasien TB yang masih berobat di Desa Sarampad dan Desa Ciherang serta kader PPTI Kabupaten Cianjur.
Bakti Sosial dihadiri para pejabat dari Kabupaten Cianjur dan dibuka oleh Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Cianjur yang membidangi Ekonomi Pembangunan, Tresna Gumilar.
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat PPTI, Ny. Raisis Arifin Panigoro dalam sambutannya mengatakan, PPTI adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang membantu pemerintah, baik pusat maupun daerah yang khusus bergerak dalam menanggulangi penyakit TB.
Tugas utama PPTI yaitu penyuluhan dan memberi santunan kepada masyarakat yang tidak mampu sebatas kemampuan organisasi. Penyuluhan dilakukan oleh kader-kader PPTI untuk memberi pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit TB kepada masyarakat. Dengan penyuluhan para kader PPTI dapat membantu menemukan kasus/penderita TB di masyarakat dan melalui penyuluhan pula para kader PPTI dapat mendampingi dan memberi semangat pasien TB untuk menyelesaikan pengobatannya selama 6 bulan penuh sampai sembuh.
Menurut Ketua Umum BPP-PPTI, TB berkaitan erat dengan kemiskinan walaupun dapat menjangkiti siapa saja. TB, berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat, antara lain kurang udara segar / ventilasi udara dan kurang paparan sinar matahari. Selain itu TB juga berkaitan dengan HIV/AIDS, berkaitan dengan penyakit kencing manis dan kebiasaan merokok. Pada dasarnya mudah menjangkiti orang-orang dengan daya tahan tubuh yang rendah.
“Pada kesempatan yang baik ini, kami mengajak seluruh masyarakat untuk memulai berperilaku hidup bersih dan sehat, bergaya hidup yang sehat dengan antara lain berhenti merokok dan jangan memulai merokok bagi yang belum pernah merokok”, imbuh Ny. Raisis.
Sekretaris Umum BPP-PPTI Drg. Mariani Reksoprodjo dalam laporannya menyampaikan saat ini masih banyak kasus TB yang belum ditemukan dan berpotensi menjadi sumber penularan ditingkat masyarakat. Padahal penyakit TB dapat disembuhkan. Karena itu PPTI berupaya membantu pemerintah cq Dinas Kesehatan sebatas kemampuan organisasi.
Dalam bakti sosial ini, pemeriksaan dan pengobatan dilakukan oleh 3 orang dokter umum dari Klinik JRC - PPTI Pusat ; 1 orang Dokter umum dari Puskesmas Kecamatan Pacet Cipendawa ;1 orang dokter umum dari PPTI Cabang Cianjur, staf Klinik JRC - PPTI Pusat dan staf Puskesmas Kecamatan Pacet Cipendawa.
Bakti sosial terselenggara berkat kerjasama antara PPTI Pusat dengan jajaran Perkebunan Teh Maleber, Kecamatan Cugenang dan Kecamatan Pacet, termasuk Puskesmas Kecamatan Cugenang, Kecamatan Pacet, Desa Sarampad dan Desa Ciherang serta pihak-pihak terkait lainnya. Jumlah sasaran bakti sosial sebanyak 300 orang terdiri dari100 orang berasal dari desa Sarampad dan 200 orang berasal dari desa Ciherang.
Berita ini disiarkan oleh Badan Pengurus Pusat PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com.
Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo.
Sekretaris Umum


Dr. Achmad Hudoyo, Sp.P(K) Ketua II BPP-PPTI sedang melakukan penyuluhan tentang TB pada acara Bakti Sosial PPTI Pusat di area perkebunan teh Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur tanggal 17 Desember 2014.




dr. Namira (dokter Klinik JRC-PPTI) sedang memeriksa pasien pada acara Bakti Sosial PPTI Pusat di area perkebunan teh Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur tanggal 17 Desember 2014.




dr. MC. Joyce Tumbelaka,MARS(Pimpinan Klinik JRc-PPTI) sedang membagikan obat kepada masyarakat pada acara Bakti Sosial PPTI Pusat di area perkebunan teh Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur tanggal 17 Desember 2014.




Ibu Bintarti Meilono Bendahara BPP-PPTI sedang menyerahkan paket bantuan bahan pangan pada acara Bakti Sosial PPTI Pusat di area perkebunan teh Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur tanggal 17 Desember 2014.




Usai menyerahkan paket bantuan secara simbolis pada acara Bakti Sosial PPTI Pusat di area perkebunan teh Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur tanggal 17 Desember 2014 Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Arifin Panigoro (ke 2 dari kanan), Ny. Sri Wahyuni B. Subianto Ketua Bidang Dana,Usaha dan Sosial BPP-PPTI (ke 4 dari kanan), Drs. Tresna Gumilar assisten Sekda Kabupaten Cianjur bidang ekonomi pembangunan (ke 6 dari kanan) dan Ny. Yanti Budhisantoso Ketua I BPP-PPTI (paling kiri) sedang berfoto bersama dengan masyarakat.


Peningkatan Kemandirian Perawatan Klien TB Paru

PENINGKATAN KEMANDIRIAN PERAWATAN KLIEN TB PARU MELALUI PEMBERDAYAAN DALAM KELOMPOK KELUARGA MANDIRI

Astuti Yuni Nursasi
Program Doktoral Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus UI Depok Jawa Barat, 16424

Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit menular yang prevalensi kejadiannya tinggi di Indonesia.Kekurangan SDM terutama perawat menyebabkan perawat tidak dapat melakukan kunjungan rumah yang bertujuan meningkatkan kemandirian dan kemampuan klien TB dalam melakukan perawatan TB dan memberdayakan keluarga untuk dapat memberikan dukungan perawatan bagi klien TB. Selain itu adanya stigma terhadap klien TB menjadi persoalan yang dialamikoien TB.
Program ini merupakan salah satu inovasi dari intervensi keperawatan yang berbentuk pemberdayaan masyarakat melalui kelompok yang disebut Kerlompok Keluarga Mandiri (KKM). Kelompok ini terdiri dari klien atau terduga TB, keluarga atau pemberi asuhan,dan tokoh atau masyarakat lainnya.
Pelaksanaan kegiatan ini bermitra dengan Puskesmas Pancoran Mas dan Pekumpulan Pemberantasan TB Indonesia (PPTI) anak cabang Depok. Kemitraan ini membantu pelaksanaan program dalam mengumpulkan dan melakukan pendekatan terhadap masyarakat yang menjadi target pelaksanaan program.
Metode yang diaplikasikan dalam program ini adalah kader menyampaikan informasi tentang TB bagi kelompok.Semua materi telah dirangkum dan disajikan dalam modul untuk kader dan anggota kelompok.Modul yang dikembangkan berdasarkan pada hasil identifikasi masalah dalam focus group discussion dengan tokoh masyarakat, kader dan klien TB sebelum program berjalan.Program ini diimplementasikan dua kali dalam sebulan selama 6 bulan.Saat ini telah terbentuk empat KKM dari empat RW yang berbedaTB dengan anggota kelompok 10-15 orang.
Implementasi program masih berjalan. Berdasarkan keterangan dari penanggung jawab TB di Puskesmas Pancoran Mas jumlah kunjungan suspek TB ke Puskesmas Pancoran Mas meningkat selama proses pelaksanaan program. Suspek bulan Mei-Juli 2014 sebanyak 163 orang dan yang terdiagnosis BTA positif sebanyak 30 klien TB. Sebelumnya kasus TB yang ditemukan hanya berjumlah 93 kasus pada tahun 2013.
Hal ini menunjukkan peningkatan penemuan insiden TB sebanyak 5% dalam satu trimester selama program KKM TB berjalan.Pelaksanan program ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan TB sehingga semakin banyak warga yang memeriksakan kesehantannya jika merasakan tanda dan gejala sehingga kejadian TB dapat dideteksi lebih awal untuk menghindari keparahan penyakit dan mencegah penularan ke masyrakat lain.
Untuk selengkapnya bisa di download artikelnya disini
Sumber dari www.stoptbindonesia.org

Penanggulangan TB di Blitar

Penanggulangan TB di Blitar
libatkan Stakeholder Kecamatan

Untuk mendapatkan kesepaham bersama tentang arah program dan komitmen tentang pengendalian tuberkulosis (TB), pada tanggal 3 Desember 2014 bertempat di kantor Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, Community Empowerment of People Againts Tuberculosis Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (CEPAT-LKNU) Kabupaten Blitar menyelenggarakan pertemuan sosialisasi stakeholder utama tingkat kecamatan Ponggok. Pertemuan ini merupakan pertemuan ke-2 setelah Kecamatan Talun yang sudah dilaksanakan tanggal 25 Nopember 2014. Pertemuan ini menjadi dasar pijakan untuk mendapatkan kesepakatan tentang pentingnya keberadaan sebuah forum koordinasi lintas stakeholder berupa Pokja TB dan HIV di tingkat kecamatan.
Hadir dalam acara pembukaan, Camat Ponggok, Agus Santosa, S. Sos. M.Si, Koordinator CEPAT-LKNU Nur Laili dan dr. Innaka dari PKM Ponggok. Acara diikuti oleh 30 peserta terdiri dari; staf Kecamatan Ponggok, Staf PKM Ponggok, Staf PKM Bacem, PKK, Tokoh Agama, MWC NU, PAC Muslimat, PAC Fatayat dan Kelompok Masyarakat Peduli TB Kecamatan Ponggok.
Dalam sambutannya Camat Ponggok, Agus Santosa, S. Sos. M.Si menyampaikan terima kasih atas kepercayaan CEPAT-LKNU Kabupaten Blitar yang telah memilih Kecamatan Ponggok sebagai salah satu wilayah cakupan program CEPAT-LKNU.
“Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dari berbagai instusi dan semua pihak yang terkait dalam semangat kemitraan. “Adanya dukungan berbagai pihak, perubahan perilaku masyarakat dan pemberdayakan masyarakat dalam penanggulangan TB amat diharapkan sehingga keberhasilan program penanggulangan TB-HIV dapat tercapai” ujar Agus Santoso.
Siti Nurhidayati, SKM dari PKM Ponggok menyampaikan jumlah pasien TB tercatat dan ditawarkan tes HIV di PKM Ponggok pada tahun 2014 triwulan I sebanyak 5 orang dan pada tri- wulan II sebanyak 3 orang. Adapun tantangan dalam program penanggulangan kolaborasi TB-HIV diantaranya PKM belum mampu memberikan layanan testing HIV karena keterbatasan SDM dan sarana prasarana serta masih adanya keraguan petugas kesehatan dalam melakukan inisiasi untuk testing HIV ” jelas Nurhidayati.
Sementara Wijianto, Fasilitator Advokasi CEPAT-LKNU Blitar memaparkan hasil survei yang dilakukan Kelompok Masyarakat Peduli TB terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat dari prespektif klien di Puskesmas yang berada di Kecamatan Ponggok. Indeks Kepuasan ini meliputi 14 unsur kepuasan dan 12 standart kinerja. Hasilnya, 80% masyarakat menyatakan puas terhadap pelayanan pasien TB di PKM Ponggok.
Dalam Pertemuan ini peserta pertemuan menyetujui beberapa usulan terkait pengaktifan Pokja TB-HIV, diantaranya; peningkatan kapasitas bagi petugas PKM, ketersediaan logistik untuk penanggulangan TB dan HIV.
“Pokja TB-HIV ini akan menjadi forum yang secara aktif mendiskusikan permasalahan TB dan isu kesehatan terkait serta mengidentifikasi alternatif solusi untuk menjawab tantangan yang ada. Keberhasilan dalam pembentukan atau revitalasi pokja tersebut akan menjadi langkah awal dalam upaya mengajak semua mitra utama di kabupaten untuk ikut terlibat dalam upaya penanggulangan TB di Kabupaten”, ungkap Wijianto mengakhiri sesi diskusi tanya jawab dan rencana tindak lanjut.
sumber dari www.stoptbindonesia.org )