Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2015

Kegiatan Bakti Sosial PPTI Pusat di Kelurahan Kapuk, 2015.

Acara TB Day 2015

Menkes RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek mengunjungi stand pameran PPTI diterima Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro

Tangani TB, LSM perlu bermitra



Melihat besarnya beban Indonesia dalam menanggulangi tuberkulosis (TB), terutama masih tingginya angka kematian dan temuan kasus baru per tahun, peran semua pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi kemasyarakatan (civil society organization/CSO), sangat diperlukan. Peran LSM, bekerja sama dengan pemerintah dan swasta, diperlukan terutama dalam menemukan kasus, mendiagnosis, dan mendukung kepatuhan pasien untuk berobat TB hingga pasien sembuh.
Sejauh ini, LSM yang berupa organisasi profesi, keagamaan, kelompok pasien, baik lokal, nasional, maupun internasional dengan jejaringnya, telah memberikan kontribusi besar dalam pemutusan mata rantai penyebaran TB di Indonesia dan dunia.
Sekadar contoh, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Aisyiyah (Muhammadiyah), dan Persatuan Karya Dhama Kesehatan Indonesia (Perdhaki) adalah contoh organisasi berbasis keagamaan yang melakukan kegiatan secara aktif memberantas TB di beberapa provinsi di Indonesia.
Jalur keagamaan dijadikan basis dalam melaksanakan misi mengendalikan TB. Selain itu ada juga LSM non-keagamaan, seperti Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Perkumpulan Pasien dan Masyarakat Peduli TB (Pamali), Jaringan Peduli Tuberkulosis Indonesia (Japeti), Pejuang Tangguh (Peta), dan banyak lagi yang lain, yang terus berkiprah dalam gerakan stop TB. LSM ini telah memberi sumbangan berharga, dengan kapasitas masing-masing, dalam upaya pengendalian TB di Indonesia. LKNU, misalnya, lewat program CEPAT-LKNU, telah terlibat dalam upaya pengendalian TB di 3 provinsi dengan dukungan pendanaan dari USAID. Demikian juga Aisyiyah yang berperan aktif dalam Program Penanggulangan TB berbasis masyarakat dengan dukungan dana dari Global Fund.
Kepedulian LSM terhadap TB bukan tanpa hambatan. Selain dari sisi jumlah dan kapasitas yang tidak merata di setiap wilayah, juga hambatan berupa kekurangan dana. Sejauh ini, gerakan anti TB oleh LSM masih mengharapkan bantuan donor. Adapun yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah belum maksimalnya mekanisme pencatatan kontribusi kelompok masyarakat dalam Sistem Informasi TB Terpadu (SITT).
Ke depan diharapkan, situs web www.sittindonesia.org terus dikembangkan sehingga bisa menghimpun semua laporan terkait kasus TB di seluruh Nusantara secara valid dan maksimal. (*)
Sumber dari : Newsletter kemitraan TB edisi 2

Penanggulangan TB di Tempat Kerja



Pekerja atau karyawan, yang rata-rata menghabiskan waktu lebih kurang 8 jam di tempat kerja, tidak dimungkiri berpotensi terjangkit penyakit, baik penyakit akibat kerja (PAK) maupun penyakit umum. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian adalah tuberkulosis (TB), penyakit mematikan terbesar di dunia. Dibutuhkan kemitraan yang kuat antarsemua pihak, terutama komitmen para pimpinan di tempat kerja, dalam menanggulangi penyakit mematikan ini.
Berdasarkan hasil survei Tuberculosis Global (2013), yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015, jumlah penemuan kasus baru TB di Indonesia mencapai 1 juta per tahun. Ini meningkat dari kondisi pada 2014, dengan penemuan 460.000 kasus baru. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada negara terbesar kedua setelah India (Kompas, 24/3/2016).
Melihat seriusnya dan pentingnya pengendalian TB di tempat kerja,pada pertemuan di Kampus Pasca Sarjana, Universitas Paramadina, pada 25 Agustus 2016, dr Amarudin dari Kementerian Ketenagakerjaan RI membeberkan Panduan Pengendalian TB di Tempat Kerja. Menurut dr Amarudin, pengendalian TB di tempat kerja dilakukan dengan strategi Directly-Observed Treatment Short-course (DOTS) atau pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung.
Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, kebijakan pengendalian TB di tempat kerja ini mengacu pada kebijakan nasional pengendalian TB yang diintegrasikan dalam program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Penyelenggara kegiatan pengendalian TB ditetapkan oleh pimpinan tertinggi di tempat kerja atau puskesmas di tempat wilayah tempat kerja berada. Kegiatan ini juga memberdayakan unit dan personel K3 dan merupakan bagian dari kegiatan surveilans nasional TB. Adapun kegiatan ini menjadi satu kesatuan dengan pengendalian TB di wilayah tempat kerja berada.
Untuk itu, setiap pimpinan perusahaan diminta komitmennya menyediakan fasilitas dan mengembangkan sumber daya yang diperlukan dalam pengendalian TB di tempat kerja. Selain itu, pimpinan perusahaan juga diminta memfasilitasi pembentukan tim TB DOTS, meningkatkan peran serta pekerja dan masyarakat umum, menjamin ketersediaan fasilitator kesehatan, memfasilitasi sistem pengelolaan dan ketersediaan obat anti tuberculosis (OAT), menjalankan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) serta memonitoring, mencatat, dan melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan. (*)
Sumber dari : Newsletter kemitraan TB edisi 1

Pengurus PPTI Wilayah Sumbar dilantik

Berita Pers
No.06.06.2017

Pengurus PPTI Wilayah Sumbar dilantik

Jakarta, 3 Januari 2017.
Bertempat di Aula Balai Kesehatan Olah Raga dan Pelatihan Kesehatan Sumatera Barat, tanggal 15 Desember 2016 Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro melantik Pengurus Wilayah PPTI Sumatera Barat masa bakti 2016-2021. Nama-nama pengurus dapat diklik di sini. Turut hadir dan memberikan sambutan, Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Payitno, M.Si.
Ny. Raisis Arifin Panigoro dalam sambutannya mengatakan, berdasarkan hasil prevalence survey yang dilakukan Badan Litbang Kementerian Kesehatan RI bahwa di Indonesia dalam 1 tahun terdapat 1 juta kasus baru TB dengan 100 ribu kematian. Dari jumlah tersebut, baru 324 ribu kasus TB yang ditemukan, sehingga masih ada 676 ribu kasus TB yang belum ditemukan.
“Sesuai tugas utama PPTI yaitu penyuluhan dan memberi santunan kepada pasien TB yang tidak mampu, seyogyanya PPTI dapat berkontribusi dalam menemukan kasus TB dan melakukan pendampingan pengobatan melalui para kadernya di masyarakat”, ujar Ny. Raisis.
Ketua Umum BPP-PPTI mengharapkan, PPTI Wilayah Provinsi Sumatera Barat segera membentuk kepengurusan PPTI ke setiap kabupaten/kota, karena yang bertugas melatih para kader TB adalah Pengurus Cabang PPTI Kabupaten/Kota.
Ny. Raisis mengingatkan, tugas PPTI Wilayah atau provinsi adalah :
  • Mengembangkan kepengurusan PPTI ke tingkat kabupaten/kota
  • Melakukan kerjasama dengan berbagai mitra di tingkat wilayah atau provinsi
  • Menjalankan pedoman
  • Menjadi inisiator pembentukan Forum Stop TB Partnership di tingkat provinsi
  • Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh PPTI cabang-cabang sesuai Renstra PPTI 2015 -2019
Adapun tugas PPTI Cabang atau kabupaten/kota adalah :
  • Mengembangkan kepengurusan ke tingkat kecamatan
  • Menjadi implementor program-program PPTI antara lain dengan melatih kader TB
  • Menjalankan pedoman
  • Menjadi inisiator pembentukan Forum Stop TB Partnership tingkat kabupaten/kota
  • Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan para kader per kecamatan
Sedangkan tugas PPTI tingkat Anak Cabang atau Kecamatan yaitu :
  • Melakukan supervisi terhadap kader yang berfungsi sebagai koordinator Pemantau Menelan Obat (PMO)
  • Sebagai koordinator penyuluhan kepada kelompok masyarakat yang dilakukan di desa atau kelurahan
  • Sebagai koordinator penyuluhan " door to door "
  • Sebagai koordinator dalam mengembangkan pemetaan pasien TB per - RW yang dibuat oleh kader
Ditambahkan, para kader TB yang sudah dilatih perlu dibuat Directory/buku Daftar Kader yang memuat nama, alamat dan nomor telpon. Daftar alamat tersebut disampaikan kepada rumah sakit dan Puskesmas, sehingga apabila terdapat pasien yang mangkir berobat di Puskesmas atau Rumah Sakit dapat menghubungi kader tersebut untuk dilakukan pelacakan agar bersedia kembali melanjutkan pengobatannya sampai sembuh.
Ny. Raisis menegaskan, PPTI Cabang tidak perlu merekrut kader baru, tetapi memberi pembekalan pengetahuan tentang TB kepada para kader PKK yang sudah ada. Ha ini bisa dilakukan karena telah ada payung hukumnya yaitu Perjanjian Kerjasama antara TP-PKK Pusat dengan Ketua PPTI Pusat.
Saat ini, PPTI Pusat sudah menyusun Pedoman Penyuluhan, Pedoman Pelatihan Kader dan telah mencetak Lembar Balik untuk penyuluhan TB sebagai pegangan para kader.
Berita ini disiarkan oleh BPP-PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum






Tuberkulosis dan pengobatannya

Batuk terus menerus?
Sebaiknya anda memeriksakan diri untuk mengetahui penyebabnya.
Batuk berdahak selama2 minggu atau lebih adalah salah satu gejala dari Tuberkulosis (TB). Selain batuk, ada gejala lain yang juga sering muncul seperti demam meriang, berat badan dan nafsu makan menurun, sakit dada bila sesak, sesak, sering berkeringat dimalam hari meski udara tidak panas dan kita tidak melakukan apapun bahkan tidak jarang juga batuk darah. Namun tidak jarang orang menganggap semua itu adalah gangguan kesehatan ringan, tidak ada yang serius. Padahal mungkin saja kita terkena TB. Bila tidak segera ditangani dapat membahayakan diri dan orang sekitar.
Kuman Mycobacterium tuberkulosis menular melalui udara dari orang yang sakit kepada orang lain di sekelilingnya. Saat orang yang sakit TB batuk atau bersin, jutaan kuman TB terbang ke udara dan dapat terhirup oleh kita. Meski kita menghirup kuman TB, tidak serta merta kita menjadi sakit. Kuman TB dapat tidur panjang atau dormant di dalam tubuh kita. Saat kekebalan tubuh kita menurun kuman TB dapat “bangun” dan membuat kita menjadi sakit TB diawali dengan gejala-gejala yang disebutkan di atas. Segera periksakan diri. TB bisa disembuhkan daengan pengobatan yang berkualitas.
Pemeriksaan TB dapat dilakukan di Puskesmas dan Rumah Sakit dengan pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu). Bila pemeriksaan tersebut menyatakan anda sakit TB, maka anda aan memulai pengobatan selama 6-8 bulan sesuai kondisi anda. Obat TB yang berkualitas dan sesuai standar WHO disediakan oleh pemeritah. Dapatkan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Gratis di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Daftar layanan kesehatan sebagai berikut : (list puskesmas)
Ajaklah orang yang bergejala memeriksakan diri, TOSS TB, temukan TB Obati Sampai Sembuh! (sumber dari) : www.tbindonesia.or.id