Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2015

Kegiatan Bakti Sosial PPTI Pusat di Kelurahan Kapuk, 2015.

Acara TB Day 2015

Menkes RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek mengunjungi stand pameran PPTI diterima Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro

Sumbangan dari Laboratorium Klinik Gunung Sahari

PPTI TERIMA SUMBANGAN 20 JUTA LEBIH
DARI LABORATORIUM KLINIK
GUNUNG SAHARI

Jakarta, 26 April 2016.
Hari ini, tanggal 26 April 2015, PPTI menerima sumbangan sebesar dua puluh juta sembilan ratus tujuh puluh ribu rupiah dari Laboratorium Klinik Gunung Sahari. Sumbangan diserahkan langsung oleh Dr. Herman Kurniawan, Sp.PK, Direktur PT Bio Diagnindo Jaya pemilik Laboratorium Klinik Gunung Sahari kepada Drg. Mariani Reksoprodjo, Sekretaris Umum BPP-PPTI mewakili Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro di Kantor PPTI, Jl. Sultan Iskandar Muda No. 66 A Jakarta Selatan.
Menurut Dr. Herman, sumbangan tersebut dikumpulkan dari 838 pelanggan yang bertransaksi di Laboratorium Klinik Gunung Sahari selama bulan Maret 2016. Sumbangan tersebut merupakan perwujudan kepedulian Laboratorium Klinik Gunung Sahari dalam upaya penanggulangan TB yang diupayakan oleh PPTI. “ Ini merupakan sumbangan pertama, dan sumbangan selanjutnya akan diberikan dalam bentuk diskon (potongan harga) pemeriksaan laboratorium yang dikirim/dirujuk oleh Klinik JRC- PPTI di Klinik Gunung Sahari, ujar Dr. Herman.
Drg. Mariani Reksoprodjo dalam sambutannya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Laboratorium Klinik Gunung Sahari atas kepeduliannya untuk bersama-sama membantu pemerintah dalam mengendalikan TB di Indonesia.
Dikatakan, Indonesia saat ini dalam kondisi kedaruraratan TB karena setiap tahun ditemukan satu juta kasus TB baru. Disamping tingginya penemuan kasus baru TB, setiap tahun terdapat 100.000 kematian akibat TB, yang berarti setiap hari 273 orang Indonesia meninggal akibat TB. Kondisi tersebut, menempatkan Indonesia menduduki peringkat dua dunia dengan beban TB setelah India. Peringkat ketiga beban TB terbesar dunia diduduki China, disusul peringkat keempat Bangladesh dan kelima Pakistan.
Tugas dan tanggung jawab pengendalian TB di Indonesia semakin berat, karena target dunia bebas TB (World TB Free) yang semula akan dicapai pada tahun 2050 dimajukan menjadi tahun 2035.
Berita ini disiarkan oleh Pengurus Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat email PPTI : ppti66@yahoo.com.

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum






DARURAT TUBERKULOSIS

INDONESIA DARURAT TUBERKULOSIS

BERITA PERS
Jakarta, 7 April 2016.
Berdasarkan Survei Pravelensi TB oleh Badan Litbangkes Kemenkes RI Tahun 2013-2014 angka insidence (kasus baru) tuberkulosis ( TB ) Paru di Indonesia sebesar 403/100.000 penduduk, sedangkan angka prevalence (kasus baru dan lama) 660/100.000 penduduk.
Berdasarkan perkiraan jumlah penduduk Indonesia + 250 juta, setiap tahun ditemukan 1 juta lebih kasus TB Paru baru dengan angka kematian sebesar 100.000 orang/tahun atau 273 orang per hari.
Dengan hasil survei tersebut, menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dengan kasus TB terbanyak di dunia setelah India. Dengan data ini berarti Indonesia saat ini dalam kondisi darurat TB Paru.
Sayangnya, besarnya masalah TB Paru di Indonesia belum diimbangi dengan dana yang cukup, sehingga Indonesia masih dibantu dana hibah dari Global Fund (GF). Padahal bantuan GF pada suatu saat dapat dihentikan sejalan dengan kemampuan negara kita. Hal ini dapat dipahami karena GF akan memfokuskan bantuannya kepada negara-negara yang belum mampu.
Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) berkolaborasi dengan Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama (LKNU) dan CCPHI menyelenggarakan “Diskusi Best Praktices Program Kemitraan Stop TB” tanggal 7 April 2016 bertempat di Griya Jenggala I No. 2, Jakarta. Diskusi diikuti 200 peserta dari kalangan dunia usaha/swasta, CSO (Civil Society Organization), pemerintah, mahasiswa, pemerhati masalah TB yang umumnya tergabung dalam Forum Stop TB Partnership Indonesia dengan tujuan untuk memberi ruang yang lebih luas bagi sektor swasta/dunia usaha apapun kegiatan bisnisnya untuk berpartisipasi dalam program pengendalian TB di Indonesia.
Selama ini sejumlah korporasi sudah berkontribusi dalam program pengendalian TB, dan yang diundang saat ini untuk berbagi pengalaman dalam diskusi yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Tiga Raksa Satria Tbk, PT Unilever Indonesia dan PT Freeport Indonesia. Pengalaman mereka dapat menginspirasi perusahaan lain untuk ikut berpartisipasi dan berkontribusi tanpa memandang latar belakang perusahaan atau ruang lingkup usahanya dan tidak harus berkaitan dengan urusan kesehatan.
Penyakit TB dapat menjangkiti setiap orang, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Walaupun TB dapat menjangkiti berbagai organ tubuh manusia, namun yang paling mudah terkena dan menularkan kepada orang lain adalah TB Paru.
TB berkaitan erat dengan kemiskinan. Kemiskinan berkaitan erat dengan gizi buruk, tempat tinggal yang tidak sehat (kumuh, padat, tidak terpapar sinar matahari dan tidak ada ventilasi udara). Kondisi ini memudahkan penyebaran penyakit TB paru terutama kepada kelompok rentan yaitu anak-anak dan orang tua.
Oleh karena itu, selain dunia usaha/sektor swasta, seluruh komponen masyarakat diharapkan berkontribusi sesuai ruang lingkupnya masing-masing dan sebatas kemampuannya, agar TB (khususnya paru) tidak menular ke lebih banyak orang lagi. Laporan resmi WHO Tahun 2015 menyebutkan bahwa pada tahun 2014 terdapat 9,6 juta orang di dunia sakit karena TB dan sebanyak 1,5 juta orang diantaranya meninggal karena TB.
Pada Program TB Nasional Obat anti TB (OAT) disediakan oleh pemerintah secara gratis.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Drg. Mariani Reksoprodjo dan Dr. Henry Diatmo, Kantor Skretariat PPTI Pusat/FSTPI Jl. Sultan Iskandar Muda No. 66 A, Kebayoran Lama Utara, Jaksel. Telp. 021-7397494; email : ppti66@yahoo.com dan admin@stoptbindonesia.org.
Hartono Rakiman (CEPAT – LKNU ), Grha Tirtadi 5th floor, Room 501, Jl. Raden Saleh No. 20 Jakarta Pusat. Telp. 021-39837388; email : hartono@cepat-lknu.org.

Forum Stop TB Partnership Indonesia
Drg. Mariani Reksoprodjo
Secretary Executive



Mengenal TB

MENGENAL TUBERKULOSIS


134 tahun yang lalu tepatnya tanggal 24 Maret 1882, Robert Koch mengumumkan penemuan bakteri penyebab Tuberkulosis (TB). Untuk memperingati ditemukannya bakteri penyebab TB dan sekaligus mengenang jasa Robert Koch, tanggal 24 Maret ditetapkan sebagai TB Sedunia. Tahun ini peringatan hari TB dengan tema Global HTBS adalah "Unite To End TB". Sedangkan Tema Nasional HTBS 2016 adalah "Gerakan Keluarga Menuju Indonesia Bebas TB" melalui Gerakan “Temukan TB, Obati Sampai Sembuh (TOSS TB)".
TB saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut data (Global TB Report tahun 2015), di Indonesia terdapat kematian sebesar 64.000 orang per tahun tanpa HIV+TB.
Itu artinya, setiap hari di Indonesia terdapat 175 orang meninggal karena TB. Oleh karena itu TB perlu dikenali, ditemukan dan diobati sampai sembuh serta dicegah agar tidak menular kepada anggota keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Untuk menuju Indonesia bebas TB mari kita bersatu, berjejaring antar semua komponen masyarakat baik pemerintah maupun swasta. Untuk mengenali dan menemukan TB perlu tahu apa itu TB, bagaimana penularannya, bagaimana gejalanya dll.

Apa itu TB
TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). TB lebih sering menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang bagian tubuh lain seperti selaput otak, kulit, tulang, kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lainnya disebut TB ektra paru.
TB bukan penyakit keturunan dan bukan disebabkan oleh kutukan atau guna-guna, stigma di masyarakat yang mengaitkan penyakit TB dengan dunia mistis perlu di luruskan. TB dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, kaya). TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, lengkap dan teratur.

Penularan TB
Sumber penularan adalah dahak penderita TB. TB menular melalui udara bila penderita batuk, bersin dan berbicara dan percikan dahaknya yang mengandung kuman TB melayang-layang di udara dan terhirup oleh orang lain.
Catatan : Penderita TB Paru dengan BTA Positif, dapat menularkan kepada 10-15 orang per tahun di sekitarnya. (BTA Positif artinya dalam parunya terdapat bakteri TB)

Gejala TB?
Gejala utama adalah batuk berdahak terus-menerus selama 2-3 minggu atau lebih.
Gejala-gejala lainnya antara lain:
  • Sesak napas dan nyeri pada dada
  • Batuk bercampur darah
  • Badan lemah dan rasa kurang enak badan
  • Kurang nafsu makan dan berat badan menurun
  • Berkeringat pada malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan
Diagnosa TB?
Dilakukan pemeriksaan dahak dengan miskroskop. Seseorang dipastikan menderita TB bila dalam dahaknya terdapat kuman TB.
Dahak yang diambil adalah dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS) :
  1. Pada waktu datang pertama kali untuk periksa ke unit pelayanan kesehatan, disebut dahak Sewaktu pertama (S).
  2. Dahak diambil pada pagi hari berikutnya segera setelah bangun tidur, kemudian dibawa dan diperiksa di unit pelayanan kesehatan, disebut dahak Pagi (P).
  3. Dahak diambil di unit pelayanan kesehatan pada saat menyerahkan dahak pagi, disebut dahak Sewaktu kedua (S).
Pengobatan TB?
Pengobatan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal (intensif, 2 bulan) dan tahap lanjutan. Lama pengobatan 6-8 bulan, tergantung berat ringannya penyakit. Penderita harus minum obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai dinyatakan sembuh. Dilakukan tiga kali pemeriksaan ulang dahak untuk mengetahui perkembangan kemajuan pengobatan, yaitu pada akhir pengobatan tahap awal, sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan.

Tempat Berobat Penderita TB
Puskesmas, Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4), Rumah Sakit, klinik dan dokter praktek swasta. Di Puskesmas, penderita bisa mendapatkan obat TB secara cuma-cuma (gratis).
Bisa juga datang ke klinik-klinik milik PPTI :
  • Klinik JRC-PPTI Pusat di Jalan Sultan Iskandar Muda No.66A Kebayoran Lama Utara Jakarta Selatan – 12240.
  • Klinik PPTI Wilayah DKI Jakarta, Jl. Baladewa 34 Jakarta Pusat
  • Klinik PPTI Wilayah DKI Jakarta, Jl. Dermaga Muara Angke 1 Jakarta Utara.
  • Klinik PPTI Wilayah Jambi, klinik PPTI Cab. Kota Semarang, Klinik PPTI Cab. Bantul (DIY)
Catatan:
Rumah Sakit, Klinik dan Dokter Praktek Swasta yang sudah bekerjasama dengan program juga menyediakan obat yang sama dan Gratis. Akibatnya bila Penderita minum obat tidak teratur?
  • Penyakit tidak akan sembuh atau bahkan menjadi lebih berat.
  • Penderita tetap dapat menularkan penyakitnya pada orang lain.
  • Penyakit menjadi makin sukar diobati karena ada kemungkinan kuman TB menjadi kebal, sehingga diperlukan obat yang lebih kuat dan lebih mahal. Obat untuk kuman yang kebal tidak tersedia di semua fasilitas kesehatan.
  • Perlu waktu lebih lama untuk sembuh.
  • Penderita dapat juga menularkan kuman yang sudah kebal obat pada orang lain.
Kapan penderita dinyatakan sembuh?
Bilamana pada pemeriksaan ulang dahak satu bulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pegobatan tidak ditemukan lagi adanya kuman TB.

MEMPERINGATI HARI TB SEDUNIA TAHUN 2016

KEGIATAN PPTI PUSAT MEMPERINGATI HARI TB SEDUNIA TAHUN 2016


Hari ini tanggal 24 Maret 2016, PPTI Pusat bekerja sama dengan PPTI Wilayah Jawa Barat dan PPTI Cabang Kota Cirebon menyelenggarakan Bakti Sosial, berupa “ Penyuluhan tentang penyakit TB MDR” dan pemberian bahan pangan (beras, gula, susu, kacang hijau, minyak goreng, mie instant) serta personal hygiene (sabun, sikat dan pasta gigi) dengan sasaran 200 peserta terdiri dari para kader dan pasien TB yang masih berobat, bertempat di Aula BKPM, Jl. Ksatria, Kota Cirebon.