Penetapan Arifin Panigoro

Sebagai Ketua Forum STOP TB PARTNERSHIP Indonesia.

Kongres PPTI ke-IX

Kongres PPTI 2012, di Bali.

Bakti Sosial PPTI 2011

Kegiatan Baksi Sosial PPTI di Cirebon, 2011.

Audensi PPTI dengan Mendagri

Ketua Umum PPTI melakukan audensi kepada Mendagri, 2010.

Acara TB Day 2010

Pembukaan Acara TB Day 2010 di Jakarta, Ketua Umum PPTI-Menkes-Menkokesra.

Murid SD Sumbang PPTI

Berita Pers
No. 06.06.241.2014


MATHIEW BUDI SETIAWAN, MURID KELAS VI SD PELITA HARAPAN SUMBANG PPTI


Jakarta, 20 Mei 2014.
Hari ini, tanggal 20 Mei 2014 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-46 Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Mathiew Budi Setiawan murid Kelas VI Sekolah Dasar Pelita Harapan Jakarta menyerahkan sumbangan uang sebesar dua puluh juta lima ratus ribu rupiah (Rp. 20.500.000,-), untuk membantu pasien TB tidak mampu yang dilayani di Klinik Jakarta Respiratory Centre (JRC-PPTI) Jakarta.
Sumbangan diserahkan langsung Methiew Budi Setiawan kepada Drg. Mariani Reksoprodjo, Sekretaris Umum Badan Pengurus Pusat PPTI dan Dr. M.C. Joyce Tumbelaka, MARS, Pimpinan Klinik JRC-PPTI dengan disaksikan Ir. Wong Budi Setiawan, MM ayah dari Mathiew Budi Setiawan di Klinik JRC-PPTI, Jl. Sultan Iskandar Muda No. 66 A Jakarta Selatan.
Menurut Mathiew Budi Setiawan, sumbangan tersebut ia kumpulkan bersama beberapa teman dan beberapa orang tua murid di sekolahnya yang peduli terhadap penderita TB yang tidak mampu.
Dalam kesempatan tersebut Drg. Mariani Reksoprodjo menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas upaya yang dilakukan Mathiew dan beberapa teman serta beberapa orang tua di SD Pelita Harapan Jakarta. Semoga kepedulian terhadap pasien TB tidak mampu yang dilakukan Mathiew dan kawan-kawan menjadi contoh tumbuhnya kesadaran masyarakat bergotong royong meringankan beban penderitaan orang lain.
Sebagaimana diketahui Klinik JRC-PPTI setiap tahunnya melayani sekitar 600 pasien tidak mampu. Obat Anti TB (OAT) memang disediakan oleh pemerintah secara gratis. Namun biaya konsultasi dokter, pemeriksaan dahak, pemeriksaan rontgen, vitamin dan obat-obat untuk mengatasi efek samping OAT, biaya transport pasien untuk mengambil obat maupun Mantoux test (salah satu cara menegakkan diagnosis TB pada anak) tetap menjadi beban pasien. Itu sebabnya pasien TB yang tidak mampu memerlukan uluran tangan dari berbagai pihak baik perusahaan maupun perorangan.
Berita ini disiarkan oleh Pengurus Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat email PPTI : ppti66@yahoo.com.

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum


Mathiew Budi Setiawan, murid kelas VI SD Pelita Harapan didampingi ayahnya Ir. Wong Budi Setawan. MM diterima Drg. Mariani Reksoprodjo Sekum BPP-PPTI dan Dr. M.C. Joyce Tumbelaka, MARS diruang kerja pimpinan Klinik JRC-PPTI tanggal 20 Mei 2014 dalam rangka menyerahkan sumbangan sebesar Dua Puluh Juta Lima Ratus Ribu Rupiah untuk membantu pasien TB yang tidak mampu yang dilayani di Klinik JRC-PPTI.




Mathiew Budi Setiawan, murid kelas VI SD Pelita Harapan Menyerahkan sumbangan berupa uang Dua Puluh Juta Lima Ratus Ribu Rupiah dan diterima oleh Drg. Mariani Reksoprodjo Sekum BPP-PPTI dan Dr. M.C. Joyce Tumbelaka, MARS diruang kerja pimpinan Klinik JRC-PPTI tanggal 20 Mei 2014.




Mathiew Budi Setiawan, murid kelas VI SD Pelita Harapan didampingi ayahnya Ir. Wong Budi Setawan. MM sedang melihat-lihat Klinik JRC-PPTI bersama dengan Drg. Mariani Reksoprodjo Sekum BPP-PPTI dan Dr. M.C. Joyce Tumbelaka, MARS pimpinan Klinik JRC-PPTI.



Mathiew Budi Setiawan, murid kelas VI SD Pelita Harapan sedang melihat gudang OAT di Klinik JRC-PPTI bersama dengan Dr. M.C. Joyce Tumbelaka, MARS Pimpinan Klinik JRC-PPTI.


PPTI Ulang Tahun ke 46

Berita Pers
No. 06.06.238.2014


PPTI PERINGATI ULANG TAHUN KE 46


Jakarta, 12 Mei 2014.
Pada tanggal 20 Mei 2014 Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) genap berusia 46 tahun. Bagi organisasi sosial kemasyakatan, usia 46 merupakan usia yang telah matang dan penuh perjuangan. Matang dan penuh perjuangan karena organisasi PPTI tumbuh dan berkembang sejak era pemerintahan sentralisasi maupun di era desentralisasi. Di era sentralisasi dan desentralisasi tersebut mau atau tidak mau, suka atau tidak suka sangat mempengaruhi pasang surut perkembangan organisasi, baik di Pusat, Wilayah maupun cabang. Namun dengan penuh ketekunan, kegigihan dan pengabdian para pengurusnya yang tidak mengenal lelah, Jajaran Sekretariat dan Manajemen Klinik Jakarta Respiratory Centre (JRC) PPTI tetap eksis sampai kini bahkan sampai nanti dimana penyakit TB tidak menjadi masalah lagi di negeri tercinta ini.
HUT ke-46 PPTI diadakan tidak seperti biasanya. Kali ini diadakan dalam suasana gathering dengan dihadari 45 orang yang terdiri dari Jajaran Pengurus, Sekretariat dan Klinik Jakarta Respiratory Centre (JRC) PPTI bertempat di Kebun Teh Maleber, Kab. Cianjur Jawa Barat tanggal 11 Mei 2014.
Ny. Raisis Arifin Panigoro, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat PPTI dalam sambutannya menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kesetiaan dan komitmen jajaran pengurus dalam membantu PPTI Pusat. Diharapkan para pengurus senantiasa meningkatkan kepeduliannya terhadap organisasi PPTI.
Penghargaan dan terima kasih juga disampaikan kepada jajaran Klinik JRC, khususnya Dr. M.C. Joyce Tumbelaka, MARS, pimpinan Klinik atas upaya yang luar biasa membenahi manajemen Klinik, khususnya dalam mengelola santunan bagi pasien TB yang tidak mampu. Karena keberhasilannya itu, saat ini Klinik JRC-PPTI dapat dijadikan percontohan bagi klinik-klinik yang dimiliki PPTI Wilayah dan Cabang.
Kepada seluruh karyawan JRC dan Staf Sekretariat PPTI diminta bekerja dalam satu tim dan karenanya harus saling menghargai. Bekerja dalam suatu organisasi dibatasi oleh banyak aturan, ada jam kerja,prosedur kerja, system kerja dan lain-lain, namun kalau sudah bersedia untuk menjadi karyawan berarti sudah komit untuk mentaati semua peraturan yang berlaku, ujar Ketua Umum BPP-PPTI.
Ditambahkan, semua unit sama pentingnya, karena proses pelayanan tidak akan terjadi apabila ada satu unit yang tidak ada. Misalnya, apabila tidak ada unit pendaftaran, maka pasien tidak akan sampai ke kasir. Kalau tidak ada petugas yang mengagendakan surat-surat masuk dan surat keluar di Sekretariat PPTI Pusat, maka surat-surat tersebut tidak akan sampai kepada Ketua Umum BPP-PPTI maupun kepada Bapak Arifin Panigoro selaku Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia. Begitu pula, bila tidak ada petugas pengantar surat, maka organisasi kita tidak akan berjalan lancar”, ujar Ny. Raisis Arifin Panigoro.
Untuk memeriahkan acara, berbagai acara permainan telah disiapkan, dengan maksud untuk lebih mempererat tali silaturahmi, saling mengenal, dan menyatukan tekad untuk saling menyayangi, seperti dalam pepatah " Tak Kenal maka Tak sayang ". Dengan demikian, akan tercapai saling pengertian dan saling memahami kelebihan dan kekurangan, baik secara individu maupun secara organisasi. Acara diawali dengan kegiatan "Ice Breaking", yaitu mencairkan kebekuan diantara para peserta agar menyatu dalam suatu wadah PPTI. Dalam permainan terbagi dalam kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari semua unsur, ada pengurus, staf sekretariat dan jajaran Klinik JRC. Acara didahului dengan kegiatan fisik yang tidak terlalu berat, yaitu Tea Walk dengan route yang pendek dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit.
Selain itu, ada beberapa lomba untuk lebih menyemarakkan gathering seperti membuat lomba membuat pantun, dan pesan berantai. Dan untuk menambah semangat dan motivasi peserta, masing-masing permainan dan lomba disediakan berbagai hadiah dan door prize yang menarik.
Berita ini disiarkan oleh Pengurus Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat email PPTI : ppti66@yahoo.com.

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum


Peserta Gathering (Pengurus, Sekretariat dan Staf JRC-PPTI) melakukan tea work di kebun teh Meleber tanggal 11 Mei 2014 dalam rangka menyambut HUT ke 46 PPTI.




Peserta Gathering (Pengurus, Sekretariat dan Staf JRC-PPTI) melakukan tea work di kebun teh Meleber tanggal 11 Mei 2014 dalam rangka menyambut HUT ke 46 PPTI.




Peserta Gathering (Pengurus, Sekretariat dan Staf JRC-PPTI) melakukan kegiatan ice breaking dimulai dengan senam di lapangan kebun teh Meleber tanggal 11 Mei 2014 dalam rangka menyambut HUT ke 46 PPTI.






Dalam kegiatan ice breaking peserta dibagi kelompok-kelompok yang terdiri dari Pengurus, Sekretariat dan staf Klinik JRC-PPTI di Meleber tanggal 11 Mei 2014. Tiap-tiap kelompok menunjuk juru bicara yang akan menjawab pertanyaan yang diajukan panitia lomba.






Kelompok peserta yang diwakili juru bicara sedang menjawab pertanyaan yang diajukan panitia lomba.


















Foto bersama Peserta Gathering (Pengurus, Sekretariat dan Staf JRC-PPTI) di lapangan kebun teh Meleber tanggal 11 Mei 2014 dalam rangka menyambut HUT ke 46 PPTI.



Acara resmi HUT ke 46 PPTI dirayakan dengan acara potong tumpeng yang didahuli dengan sambutan Ketua Umum BPP-PPTI Ny. Raisis Arifin Panigoro dan doa oleh Drs. Hasbi Ash Shidiq.



Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Ketua Umum BPP-PPTI Ny.Raisis Arifin Panigoro. Yang selanjutnya diserahkan kepada pengurur yang senior (Ibu Winnie Widjaja) dan staf klinik JRC-PPTI yang yunior (Nurfaizah)









Acara hiburan diisi dengan menyanyi bersama.



Acara pembagian hadiah kepada para pemenang lomba yang diikuti oleh seluruh peserta gathering.











Sembuhkan Pasien TB

Berita Pers
No. 06.06.208.2014


TEMUKAN DAN SEMBUHKAN PASIEN TB


Jakarta, 1 April 2014.
Pada peringatan Hari TB Sedunia tahun ini, ditetapkan tema Reach the 3 Million, find, treat and cure for all. Sedangkan Indonesia menetapkan tema “ Temukan dan Sembuhkan Pasien TB ”, dengan tujuan untuk memberikan akses universal dalam pelayanan TB dengan melibatkan semua penyedia layanan kesehatan dalam pengendalian TB yang menerapkan strategi DOTS berkualitas, sehingga hak pasien terjamin memperoleh diagnosis dan pengobatan TB yang standar. Dengan demikian pasien TB dapat terpantau kepatuhan dan ketuntasan berobatnya serta terlaporkan dalam sistem surveilans nasional pengendalian TB.
Pada puncak acara, diselenggarakan Simposium Nasional dan pameran tanggal 29 Maret 2014 di Menara ESQ-165 Jl. TB Simatupang Kav. 1 Jakarta Selatan. Simposium dibuka oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS diikuti sekitar 2.000 peserta dari berbagai instansi dan organisasi peduli TB. Dalam kesempatan ini PPTI dan Forum Stop TB Partnership Indonesia berpartisipasi dengan menjadi peserta Simposium Nasional dan pameran.
Dalam pameran, PPTI menampilkan foto kegiatan bakti sosial, penyuluhan dan pembagian bahan penyuluhan PPTI seperti lembar balik untuk penyuluhan, leaflet dan poster. Sedangkan Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) menampilkan foto dan video kronologi terbentuknya FSTPI dan pertemuan 2nd Forum Stop TB Partnership Kawasan Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Mediterania Timur tanggal 3-4 Maret 2014 di Jakarta serta pembagian buku Juklak dan leaflet FSTPI.
Setiap tanggal 24 Maret, masyarakat dunia memperingati Hari Tuberkulosis (TB). Peringatan ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa penyakit TB masih menjadi masalah kesehatan dunia termasuk Indonesia. Tanggal tersebut dipilih, karena pada 24 Maret 1882, ilmuwan Jerman, Dr. Robert Koch, di Berlin, Jerman, mengumumkan hasil temuannya yaitu kuman “Mycobacterium Tuberculosis” penyebab penyakit TB. Penemuan Robert Koch membuka jalan menuju diagnosa dan pengobatan TB secara tuntas.
Usai pembukaan, Dirjen PP dan PL Kemenkes RI menyampaikan paparan tentang Pengendalian TB Terkini “ Kebijakan, Program dan Implementasinya “ dilanjutkan paparan “ Melayani dengan Hati” oleh Direktur ESQ , Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian. Dalam paparannya Dirjen PP dan PL menegaskan, karena besarnya permasalahan yang diakibatkan TB, maka TB tercakup sebagai salah satu indikator keberhasilan program MDG’S. Indikator MDG’s untuk TB yang harus dicapai Indonesia yaitu menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat TB menjadi setengahnya pada tahun 2015, dibandingkan dengan kondisi tahun 1990.
Menurut Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS, hampir semua target MDG’S untuk TB di Indonesia sudah tercapai. Pencapaian target MDG’s untuk TB yaitu kejadian TB semua kasus per 100.000 penduduk yaitu 206 pada tahun 1990 menjadi 185 pada tahun 2012 (sudah tercapai); prevalensi TB semua kasus per 100.000 penduduk yaitu 443 pada tahun 1990 menjadi 297 pada tahun 2012 (belum tercapai); angka kematian TB per 100.000 penduduk yaitu 92 pada tahun 1990 menjadi 27 pada tahun 2012 (sudah tercapai); angka penemuan kasus TB (CDR) yaitu 19,7% pada tahun 2000 menjadi 83% pada tahun 2012 (sudah tercapai) dan angka keberhasilan pengobatan TB (SR) yaitu 87% pada tahun 2000 menjadi 90% pada tahun 2012 (sudah tercapai).
Walaupun sudah ada kemajuan, namun beban permasalahan TB di Indonesia masih cukup besar, yaitu angka kematian 67.000 per tahun dan angka insidensi 460.000 per tahun.
Berita ini disiarkan oleh Pengurus Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com

Badan Pengurus Pusat PPTI
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Umum


Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama Sp.P, MARS Dirjen P2PL Kemenkes RI sedang membuka Simposium Nasional Peringatan Hari TB Sedunia tanggal 29 Maret 2014 di Gedung Menara 165 Jakarta Selatan




Ny. Raisis Arifin Panigoro Ketua Umum BPP-PPTI sedang meninjau pameran di stand PPTI dan Forum Stop TB Partnership Indonesia dalam rangka Simposium Nasional Peringatan Hari TB Sedunia tanggal 29 Maret 2014 di Gedung Menara 165 Jakarta Selatan




Stand PPTI (Perkumpulan Pemberantasaan Tuberkulosis Indonesia) dalam rangka Simposium Nasional Peringatan Hari TB Sedunia tanggal 29 Maret 2014 di Gedung Menara 165 Jakarta Selatan



Stand Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) dalam rangka Simposium Nasional Peringatan Hari TB Sedunia tanggal 29 Maret 2014 di Gedung Menara 165 Jakarta Selatan


Rekomendasi pertemuan ke-2 FSTPI

Berita Pers
No.85/FSTPI/4/2014


REKOMENDASI PERTEMUAN KE-2 FORUM STOP TB PARTNERSHIP KAWASAN ASIA TENGGARA, PASIFIK BARAT DAN MEDITERANIA TIMUR


Jakarta,28 April 2014.
Setelah berdiskusi yang cukup alot tentang berbagai isu penting dalam menghadapi tantangan pengendalian Tuberkulosis (TB) di Negara-negara kawasan Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Mediterania Timur, pertemuan 2nd Forum Stop TB Partnership untuk kawasan negara tersebut telah menyepakati REKOMENDASI kunci. Selanjutnya rekomendasi tersebut akan diserahkan Bapak Arifin Panigoro, Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia kepada Dr. Lucica Ditiu, Executive Secretary of Global Stop TB Partnership untuk diedarkan kepada seluruh pimpinan negara di dunia, khususnya kepada 22 negara dengan beban TB tertinggi untuk ditindaklanjuti. Rekomendasi Pertemuan 2nd Forum Stop TB Partnership yang berlangsung selama 2 hari tanggal 3 – 4 Maret 2014 diikuti 100 peserta dan pengamat dari 13 negara yaitu Afganistan, Bangladesh, Cambodia, China, India, Indonesia, Jepang, Nepal, Pakistan, Philipina, Korea Selatan, Thailand dan Vietnam adalah :

  1. Membentuk atau memperkuat struktur/perangkat/mitra/forum kemitraan di tingkat nasional dengan bantuan dari Global Stop TB Partnership dalam rangka untuk memastikan tindakan yang efektif, efisien dan struktur yang terlibat dalam pengendalian TB di masing-masing negara.
  2. Aktif melibatkan sektor swasta untuk berkontribusi secara substansial dalam mendukung pengendalian TB melalui berbagai mekanisme, advokasi, dukungan bisnis dan pendanaan.
  3. Memastikan lingkungan yang kondusif di tingkat nasional untuk program pengendalian TB, meliputi:
    • Adanya komitmen politik dengan diterbitkannya Keputusan Presiden atau Keputusan Tingkat Tinggi Pemerintahan sebagai landasan hukum/payung hukum bagi semua stake holder.
    • Menyusun dan melaksanakan peraturan bahwa TB merupakan penyakit yang wajib dilaporkan dengan cara :
      • Advokasi dan mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk pelaporan wajib TB;
      • Mengatur sistem informasi untuk mendukung pelaporan wajib TB;
      • Melakukan ujicoba dan penyempurnaan sistem informasi.
    • Membuat regulasi/peraturan untuk mengawasi penjualan obat anti TB.
Menurut laporan WHO, pada tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang terjangkit TB dan 1,3 juta meninggal termasuk 320.000 kematian diantaranya adalah ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Hal ini ironis, mengingat bahwa untuk mengendalikan penyakit TB sudah tersedia teknologi dan obat untuk menyembuhkannya. Laporan Global Tuberculosis 2013 dan hitung mundur sampai Tahun 2015, masih diperlukan 5 tindakan prioritas untuk mempercepatnya. Ke-lima tindakan prioritas itu adalah :

  • menjangkau kasus TB yang hilang,
  • menjadikan TB-MDR sebagai krisis kesehatan masyarakat,
  • mempercepat respon terhadap TB-HIV,
  • meningkatkan pendanaan untuk menutup kesenjangan sumber daya, dan
  • memastikan penyerapan yang cepat dan melakukan kegiatan-kegiatan yang inovatif.
Berdasarkan data WHO, Wilayah Asia Tenggara dan Kawasan Pasifik Barat secara kolektif menyumbang 58% dari kasus TB di dunia pada tahun 2012. Setengah dari Negara dengan beban tertinggi TB berada di Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Mediterania Timur yaitu 11 negara dari 22 negara dengan beban TB tertinggi.
Pertemuan 2nd Forum Stop TB Partnership yang berlangsung selama 2 hari pada tanggal 4 Maret 2014 ditutup secara resmi oleh Bapak Arifin Panigoro dan Dr. Lucica Ditiu ditandai dengan membunyikan alat musik trasidional Jawa Barat yaitu angklung. Dalam acara penutupan yang berlangsung di Soehanna Hall The Energy Building Jakarta tersebut dimeriahkan dengan tari Saman dari Aceh, mengajak para hadirin untuk bermain angklung yang dipimpin oleh kunduktor dari Sanggar Angklung pimpinan Mang Ujo dari Bandung dan penampilan penyanyi Sastrani Dewantara and friend.
Berita ini disiarkan oleh Sekretariat Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI). Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-7397494 atau alamat e-mail : admin@stoptbindonesia.org

Forum Stop TB Partnership Indonesia
Drg. Mariani Reksoprodjo
Sekretaris Eksekutif